Doa Untuk Negeri dan Bangsa Melalui Aksara Jawa

Budaya Aksara

Rajapatni.com : ŚŪRABHAYA –

 “Ya Allah, ya Tuhan, ya Gusti, ya Tuan bangsawan kota, berilah perlindungan kepada anak anak Surabaya yang ternyata masih mau belajar Aksara Jawa sebagai identitas negeri ini. Mereka belajar melalui cara cara yang halal.dan terpuji”.

Itulah lantunan doa untuk negeri yang berbudaya luhur.

*Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. Suwun, Gusti kang Sagung Dumadi. Mereka pun bersungguh sungguh berdoa untuk bisa melakukan yang terbaik dalam suatu lomba yang pada akhirnya untuk kelestarian budaya bangsa di tengah era modernisasi“.

Doa untuk negeri..Foto: courtesy of ydsf

Apresiasi yang setinggi-tingginya patut kita berikan kepada anak-anak Surabaya, yang terus mau menjaga nyala pelestarian Aksara Jawa (Hanacaraka) sebagai identitas dan akar budaya leluhur. Upaya mereka belajar dengan cara yang baik, jujur, dan kreatif adalah langkah nyata dalam merawat kebhinekaan Nusantara di Surabaya.

Di Surabaya dan Jawa Timur, gerakan pelestarian ini memang harus terus hidup melalui berbagai jalur positif:

Muatan Lokal: Pembelajaran wajib bahasa dan aksara Jawa di tingkat sekolah dasar hingga menengah.

Komunitas Kreatif: Munculnya pemuda-pemuda yang mendigitalisasi aksara Jawa agar bisa digunakan di ponsel dan komputer.

Festival Budaya: Lomba menulis risalah hingga nantinya seni kaligrafi aksara Jawa dapat memacu pelestarian budaya.

 

Menjaga warisan ini bukan sekadar dapat membaca dan menulis aksara kuno, melainkan merawat nilai-nilai budi pekerti, filosofi hidup, dan rasa hormat yang terkandung di dalam setiap hurufnya.

Semoga semangat anak-anak Surabaya dalam belajar aksara Jawa dengan mendapat perlindungan hukum, termasuk objek kebudayaannya. Melalui perlindungan hukum akan ada keberlanjutan ke masa depan.

Perlindungan hukum memang menjadi kunci utama agar semangat anak-anak Surabaya dalam mempelajari aksara Jawa tidak sia-sia, sekaligus memastikan objek pemajuan kebudayaan tersebut tetap lestari lintas generasi.

 

Manfaat Perlindungan Hukum

Menjamin Keberlanjutan: Aksara Jawa tetap masuk dalam kurikulum pendidikan formal (muatan lokal).

Alokasi Anggaran: Pemerintah wajib menyediakan dana untuk festival, lomba, dan pengadaan buku belajar.

Standardisasi Digital: Mendukung digitalisasi aksara Jawa (fon dan papan ketik) agar relevan bagi generasi muda.

Penyelamatan Objek: Manuskrip kuno dan prasasti di Surabaya mendapatkan status cagar budaya yang dilindungi dari kerusakan.

Ya Allah, ya Tuhan, ya Tuan, selamatkanlah budaya kami ini. Lindungilah anak anak yang mau belajar budaya luhur ini. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *