Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Apapun namanya, bumi yang kita pijak ini adalah Tanah Air, yang secara geografis berada di antara dua benua (Australia dan Asia) dan dua Samudra (samudra Hindia dan Samudra Pasifik).
Di era klasik Tanah Air ini pernah bernama Nusantara. Sekarang bernama Indonesia. Nama Nusantara adalah local wisdom. Sementara nama Indonesia dimunculkan oleh warga asing, yang secara geografis adalah bagian dari Austronesia.

Jika memperhatikan tabel tersebut di atas, justru nama Indonesia disebut pertama kali oleh orang asing, James R. Logan dan George S. Windor Earl pada 1850 M. Sementara Nusantara oleh Gajah Mada pada 1336 M.
Adapun Cakupan Wilayah Geografis Austronesia meliputi:
• Batas Utara: Pulau Formosa atau Taiwan.Batas Barat: Pulau Madagaskar di lepas pantai timur Afrika.
• Batas Timur: Pulau Paskah (Rapanui) di tengah Samudera Pasifik.•
• Batas Selatan: Selandia Baru.
Sementara Wilayah Nusantara meliputi: Seluruh Kepulauan Nusantara (termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Brunei)

Berdasarkan isi Sumpah Palapa, yang diikrarkan oleh Gajah Mada, wilayahnya meliputi:
• Gurun: Diidentifikasi sebagai Pulau Lombok.
• Seran: Wilayah Seram di Maluku.
• Tanjung Pura: Wilayah di Kalimantan, Wilayah Karo atau bagian utara Sumatra.
• Pahang: Wilayah di Semenanjung Malaya (Malaysia saat ini).
• Dompo: Wilayah Dompu di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
• Bali: Pulau Bali.
• Sunda: Wilayah Kerajaan Sunda di bagian barat Pulau Jawa.
• Palembang: Wilayah Palembang di Sumatera Selatan.
• Tumasik: Wilayah yang kini menjadi negara Singapura.
Adapun isi Sumpah Palapa berbunyi:
“Lamun huwus kalah Nuswantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palap.
Jika diperhatikan, nama Pulau Jawa tidak diucapkan dalam Sumpah Palapa karena wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur saat itu sudah menjadi pusat kekuasaan Majapahit, sehingga fokus sumpah tersebut adalah menaklukkan daerah-daerah seberang.
Sekarang, apalah arti sebuah nama, demikian kata pengarang terkenal William Shakespeare dalam drama Romeo and Juliet. Kalimat ini bermakna bahwa esensi atau sifat asli seseorang atau benda tidak berubah hanya karena sebutan atau labelnya.
Pun demikian dengan sebutan nama Nusantara dan Indonesia. Semoga orang Indonesia ini masih membawa sifat orang Nusantara meski ada perbedaan nama dulu (Nusantara) dan sekarang (Indonesia).
Singkatnya nama boleh Indonesia, Namun sifatnya tetap Nusantara. (PAR/nng)
