N. Purwono: “History is not merely a portrait of the past, but a mirror of the future that remains rooted in historical civilization”. Rotterdam (2023)

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sejarah bukannya masa lalu tetapi cermin masa depan. Masa lalu memberikan data nyata tentang akibat dari suatu keputusan, baik berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Dengan berkaca pada sejarah, kita bisa menata langkah, menghindari kesalahan yang sama, dan mengambil kebijakan yang lebih baik untuk menghadapi tantangan zaman.

History is not merely a portrait of the past, but a mirror of the future that remains rooted in historical civilization”, (Sejarah bukannya potret masa lalu, tetapi cermin masa depan yang masih memiliki akar peradaban historis)”, itulah statement yang pernah saya sampaikan dalam forum kelas internasional di Erasmus University, Rotterdam (2023).

Tim Urban Heritage Strategy (UHS), Erasmus Rotterdam, Foto: nng

Ketika itu saya dan tim bekerja membuat sebuah perencanaan tata ruang dan bangunan di kompleks bekas industri masa lalu di sebuah kota peninggalan zaman Romawi di Nijmegen, Belanda.

Erasmus University, Rotterdam. Foto: nng

Ada pendekatan Adaptive Reuse dalam perancangan gagasan itu agar peninggalan masa lalu yang menjadi ikon Nijmegen di tepi sungai Waal tidak punah. Nijmegen juga dikenal sebagai kota industri masa lalu. Peninggalan masa lalu itulah yang harus dijaga sebagai warna kota modern yang relevan di zamannya.

Pun demikian dalam pelaksanaan Lomba Menulis Aksara Jawa dalam rangka peringatan Bulan BAHASA dan Sastra 2026. Lomba adalah sarananya, esensinya adalah sejarah dan peradaban masa lalu yang terdokumentasikan lewat karya sastra. Yaitu karya sastra pujangga Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1788) termasuk teks Sumpah Palapa (1336) yang berkelanjutan pada Sumpah Pemuda (1928) dan diperkuat dengan inisiasi Sumpah Budaya (2026) yang menjadi rangkaian dalam peringatan Bulan BAHASA dan Sastra 2026.

Lomba ini boleh bersifat kecil (untuk sementara) tapi semangatnya besar, yang dari Surabaya bisa merambah se Nusantara. Seperti Sumpah Palapa yang keberadaannya diduga di wilayah keraton Kerajaan Majapahit di sekitar Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Namun, titik bangunan atau ruangan spesifik tempat ikrar tersebut terucap tidak memiliki bukti tertulis yang valid.

Sementara Sumpah Pemuda diucapkan di gedung, Jl. Kramat Raya No. 106 (sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda).

Kedua sumpah ini esensinya adalah tekad yang kuat untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Nusantara (Indonesia).

Sekarang dengan Sumpah Budaya memiliki esensi memperkuat persatuan dan kesatuan Indonesia yang berbhineka.

Dari Surabaya, Jawa Timur, budaya menyatukan. (From Surabaya, East Java, culture unites).

Setidaknya pelaksanaan lomba menulis aksara Jawa dalam rangka peringatan bulan Bahasa dan sastra sebagai ekspresi peringatan Hari Sumpah Pemuda ini menjadi inspirasi bagi daerah lain agar perbedaan bukanlah pemisahan tetapi sebuah rangkaian perbedaan yang kaya warna (Difference is not separation, but a spectrum of differences rich in color). (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *