Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Trofi Lomba Menulis Aksara Jawa dalam rangka Bulan BAHASA dan Sastra ini istimewa. Trofi trofi sebagai apresiasi kepada pemenang adalah buatan langsung dari Bumi Majapahit. Yaitu karya seniman Supriyadi, yang dikenal mengelola Sanggar Bhagaskara di Desa Bejijong Trowulan kabupaten Mojokerto.
“Rahayu Mbah. Masalah pialanya sudah, ok, dijamin artistik, bahan saya pilihkan dari tanah liat, biar menyatu dengan alam. Kalau fiber kayaknya gak masuk, bahan import. kurang membumi. Nanti candinya kita masukkan kaca/akrilik, biar eksklusif”, begitu kata Supriadi.
Supriadi adalah Mpu kerajinan patung di desa Bejijong Trowulan yang sekaligus mengelola galeri dan Sanggar Bhagaskara. Beberapa waktu lalu Supri menerima penghargaan atas peran aktifnya mengelola desa wisata yang berujung menjadi desa wisata percontohan Nasional.
Seniman Inspiratif
Supriadi Trowulan, yang dikenal sebagai founder Kampung Majapahit sekaligus Sanggar Bhagaskara Trowulan, juga pernahmenerima penghargaan bergengsi dalam ajang Radar Mojokerto Award.
Ia dianugerahi penghargaan dalam kategori Tokoh Inspiratif Pelestari Warisan Budaya atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengelola serta melestarikan kebudayaan dan potensi wisata berbasis komunitas di kawasan Desa Wisata Trowulan (Kampung Majapahit Bejijong).
Lewat kepemimpinannya, kawasan ini berhasil memadukan daya tarik sejarah Majapahit dengan pemberdayaan ekonomi kreatif warga setempat, mulai dari penyediaan homestay bernuansa masa lalu hingga pelestarian seni tari, pedalangan, kerajinan, dan batik khas.
Dari tangan ia lah Trofi bergengsi ini akan dianugerahkan kepada pemenang Lomba Menulis Aksara Jawa.
TKDN
Bahan bahannya pilihan, bukan berasal dari materialan impor. Tetapi bersifat lokal dari Bumi Majapahit. untuk produk Trofinya. Hal ini untuk mendorong produk produk dengan menggunakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Hal ini sekaligus strategi penting untuk memperkuat ekonomi nasional, mengurangi ketergantungan impor, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Berbahan lokal, yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) lokal, akhirnya semuanya menjadi wujud Local Genius sebagai perwujudan peradaban Majapahit yang sudah genius di eranya.
Supriadi pun dalam lomba ini ingin mengatakan lewat karya Trofinya bahwa ada local genius dari leluhurnya untuk diketahui oleh generasi sekarang melalui lomba yang bersifat local wisdom.
Candi Bajang Ratu

Trofi artistik dari tanah liat ini berbentuk Candi Bajang Ratu, yang bersifat Padu Raksa. Yaitu yang memiliki makna bersatunya jalma manungsa dan Sang Hyang Widhi (Tunggal)
Dalam arsitektur klasik Jawa dan Bali, gerbang atau candi berjenis Paduraksa memiliki ciri khas berupa atap yang menyatu, yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama untuk memasuki area paling suci (utama mandala) di dalam sebuah kompleks.
Keutamaan bentuk candi, yang terekspresikan lewat Trofi ini, adalah sebuah persembahan khusus bagi para juara dalam lomba Menulis Aksara Jawa.
