Menemukan Kembali Jejak Jejak Peradaban Nusantara. Saatnya Yang Berbaju Budaya Sadar Akan Kenusantaraannya.

Budaya Aksara 

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sebuah Kongres Kebudayaan Nusantara akan segera digelar di Malang pada 8 Agustus. Pra Kongres Kebudayaan Nusantara sudah dimulai pada Minggu, 2 Agustus secara zoom meeting. Ada sekitar 80 peserta ikut hadir dalam zoom meeting tersebut. Mereka dari berbagai tempat, diantaranya dari Surabaya.

Dalam Pra Kongres telah dibacakan arah poin bahasan, yang meliputi: 1) Sistem oral tradisional, Bahasa dan Aksara, 2) Sistem Kepercayaan, Agama dan Filosofi Spiritual, 3) Sistem Kemasyarakatan, Pedoman Hidup dan Ketatanegaraan, 4) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 5) Historis dan Jejak Peradaban, 6) Kesenian dan 7) Sistem Kalender Akademik Masyarakat Adat.

Berdasarkan pengelompokan itu, peserta yang telah teregistrasi akan dibagi menjadi 7 kelompok dan membahas poin poin yang telah ditentukan.

Kongres kebudayaan Nusantara 2026. Foto: ist

Kongres mendatang ini bertujuan untuk “Menggali Jejak Kejayaan Peradaban Wilwatikta Majapahit di Jawa Timur”. Salah satu jejak yang masih nyata dapat dilihat adalah Aksara seperti yang dapat ditemui di Museum Majapahit. Aksara, yang dimaksud adalah, Aksara Jawa Kuna (Kawi) dengan pemajuannya dalam era yang berkelanjutan, yaitu Aksara Jawa Baru (Carakan).

Diharapkan Kongres mendatang dapat membuat rekomendasi agar Aksara Nusantara, yang tidak hanya aksara Jawa tapi juga aksara aksara lainnya di Indonesia sebagai pemajuan agar aksara Nusantara, bisa dilindungi secara hukum demi kepastian hukum sekarang dan mendatang.

Apalagi kongres ini bertujuan Menemukan Kembali Jejak jejak Peradaban Nusantara. Aksara Nusantara adalah identitas peradaban bangsa karena sistem tulisan tradisional ini mencerminkan sejarah, kearifan lokal, dan tingkat kecerdasan leluhur di berbagai daerah di Indonesia.

Karenanya Kongres Kebudayaan Nusantara tahun 2026 akan digelar di lima tempat, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali dan Sumatera Utara.

Digelarnya kongres ini dilatarbelakangi oleh tereduksinya kebudayaan menjadi sekedar tontonan bukan lagi dipahami sebagai epistemologi dan jalan hidup bangsa, termasuk sistem pengetahuan tradisional yang semakin tersisihkan oleh standar epistemologi asing. Diantaranya aksara Nusantara yang tergeser oleh aksara asing. Ini adalah fakta.

Ketika Bangsa Jepang, China, India, Korea dan bahkan Thailand masih menggunakan aksara tradisional nya, mengapa bangsa Indonesia menjadi asing dengan aksara Nusantaranya. Melalui Kongres inilah diharapkan akan menjadi motor penggerak kesadaran bernusantara. Saatnya para pihak yang berbaju budaya sadar akan kenusantaraannya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *