Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – “Perlahan tapi pasti, kesadaran itu bertumbuh”. Ungkapan ini sama dengan ungkapan “sedikit sedikit lama lama jadi bukit”.
Kedua kalimat tersebut sama-sama menekankan pada proses akumulasi dan konsistensi. Sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan terus-menerus, meskipun awalnya terlihat kecil atau lambat, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang besar atau perubahan yang signifikan.

Perubahan ini tentunya pada peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga Objek Aksara Daerah di Nusantara: yang meliputi Aksara Jawa, Sunda, Bali, Batak, Lampung, dan Makasar/ Bugis. Siapa lagi kalau bukan kita. Bukan bangsa lain. Atau harus bangsa lain?

Bangsa lain sudah dengan teliti dan mahir dalam penguasaan aksara Daerah. Pada bulan November 2026 mendatang, seorang Profesor asal Australia, Prof. Stuart Robson akan merilis buku yang mentransliterasi dan menerjemahkan dalam bahasa Inggris sebuah kitab asal Majapahit, Kitab Negarakertagama atau Desawarnana.
Kitab ini malah tertulis dalam Aksara Jawa Kuno atau Kawi dan berbahasa Kawi. Tentu bagi orang Indonesia akan ada kendala gap bahasa karena diterbitkan dalam bahasa Inggris.
Termasuk naskah naskah kuno asal Keraton Yogyakarta yang sekarang masih disimpan di Perpustakaan Inggris, the British Library. Diantaranya pun telah ditransliterasi dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris. Bagaimana peran pemiliknya sendiri dalam mentransformasi ilmu pengetahuan dari kitab kitab kuno itu kepada generasi muda?
Jangankan tulisan aksara tradisional yang berbentuk kitab dan naskah naskah kuno atau manuskrip, belajar menulis dan membaca dari tingkat yang dasar pun belum maksimal terfasilitasi.
Meski ada komunitas yang terpanggil, jumlahlah juga sangat minim dan penuh dengan perjuangan. Mereka yang masih kecil itu terus menebar semangat kebudayaan. Kondisi tersebut menyoroti dua hal utama: keterbatasan jumlah (kuantitas) pelaku budaya dan besarnya tekad (kualitas/semangat) yang mereka miliki.


Minim tapi Militan: Walaupun jumlah komunitas atau individu yang peduli terhadap kebudayaan sangat sedikit, dampak dan semangat yang mereka bawa sangat besar. Mereka bergerak bukan karena fasilitas, melainkan karena panggilan jiwa.
Konsistensi Menebar Semangat: Di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, konsistensi untuk terus “menebar semangat” adalah bentuk perlawanan agar identitas bangsa tidak hilang.
Diantaranya adalah penyelenggaraan festival yang berbentuk lomba lomba, pengajaran mandiri AKSARA Jawa dan berjejaring dengan berbagai pihak mulai antar sesama komunitas, akademisi, media hingga dunia usaha.
Kurang satu untuk membentuk Pentahelix. Yaitu, Pemerintah nya mana? (PAR/nng)
