Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Masih dalam rangka peringatan Hari Menyusui Internasional yang diperingati selama sepekan mulai 1-7 Agustus.

Dalam perjalanan sejarah mulai dulu hingga sekarang, ada cara pandang dan persepsi yang berbeda antara orang zaman sekarang dan orang zaman dulu.
Ada tradisi tertentu yang sangat umum pada masa lalu di era kerajaan Majapahit dan sebelumnya, Singasari, yang masih relevan pada masa pasca kemerdekaan.
Salah satu wujud peradaban masa lalu yang sempat masih bertahan pada pasca kemerdekaan di Bali adalah dimana para kaum perempuan masih bertelanjang dada hingga tahun 1950 -an dan itu adalah hal biasa pada masanya.
Tradisi Bali

Kebiasaan perempuan Bali bertelanjang dada di masa lalu adalah bagian dari norma budaya dan cara hidup, bukan hal yang tabu. Hal ini sangat lumrah karena faktor cuaca, pandangan hidup yang alami, serta sistem nilai sosial setempat pada masa itu. Apalagi ke belakang di era Majapahit dan Singasari.
Namun tradisi ini di Bali mulai berangsur berakhir secara bertahap pada tahun 1950-an setelah otoritas dan tokoh setempat mengeluarkan aturan untuk menutup dada.
Perubahan peradaban setelah tahun 1950-an mulai memandang bertelanjang dada bagi perempuan adalah hal yang tabu atau bahkan disebut porno aksi. Sikap ini jelas bertolak belakang dari sebelumnya.
Sebelumnya, mari kita lihat arca arca dan gambar relief Nusantara pada abad abad lampau dimana dapat ditemui para kaum perempuan bertelanjang dada. Bahkan dalam koleksi foto digital oleh KITLV Belanda menunjukkan kaum perempuan Bali bertelanjang dada. Kala itu adalah kewajaran.
Arkeologi

Hal serupa juga ada di Candi Belahan (Sumber Tetek) Jawa Timur, yang memperlihatkan sosok arca perempuan bertelanjang dada, yang dari sepasang teteknya, keluar air kehidupan.

Ternyata, patung seperti ini ada juga di Bologna, Italia, yang dideskripsikan sebagai sosok ibu sedang menyusui, yang secara umum dikenal dengan Dewi Neptunus.

Arca atau Air Mancur Neptunus (Fontana del Nettuno) di Bologna, Italia ini, melambangkan kekuasaan Paus Pius IV, kesejahteraan rakyat, dan penguasaan atas dunia layaknya dewa laut. Monumen ini dibuat antara tahun 1563 hingga 1566 oleh pematung Giambologna dan arsitek Tommaso Laureti
Sedangkan Candi Belahan (Sumber Tetek) sendiri dengan arca perempuan, yang dari teteknya memancarkan air, dibuat pada abad ke-11 Masehi (tahun 1009 Masehi berdasarkan sengkalan memet) dan dibangun oleh Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan. Ini lebih tua daripada patung Neptunus di Italia.
Tradisi Lama Di Era Modern
Sekarang arca arca itu bisa saja dianggap sebagai wujud porno aksi dari sudut pandang kacamata sekarang. Tapi jangan melihat dari kacamata sekarang. Lihatlah dari peradaban masa lalu, baik yang ada di Jatim maupun di Italia atau lihatlah dari kacamata seni.
Kedua arca itu menggambarkan kehidupan yang universal baik di Jawa maupun di Italia. Nilai universal inilah yang patut dipandang dengan bijak bahwa perempuan (ibu) memberikan air kehidupan (ASI) melalui organ tubuh sebagai ciptaan sang Maha Kuasa.
Menyusui adalah simbol kasih sayang dari ibu kepada anaknya. Menyusui juga merupakan wujud nyata kasih sayang ibu, yang menghadirkan kedekatan batin, kehangatan fisik, serta nutrisi alami terbaik. Proses ini didukung oleh ikatan emosional dan kandungan gizi yang luar biasa bagi sang buah hati.
Meski norma yang berbeda dari zaman dulu dan sekarang, tetapi menyusui dipandang sebagai satu hal yang sama, yaitu memberi kehidupan. Secara kodrati dalam lintas masa yang berbeda, perempuan (ibu), di dunia manapun memberikan ASI kepada bayinya.
Dalam peradaban Nusantara sekarang, bahwa bagian dada perempuan menjadi sesuatu yang bersifat privat. Ketika bagian itu terekspos di publik bisa jadi sebagai sebuah ilustrasi porno aksi, yang dianggap tabu bagi sebagian kelompok tertentu. Meski pada era yang berbeda, telanjang dada bagi perempuan adalah biasa. (PAR/nng)
