Ironi di Tubuh Pemerintah Kota Surabaya Terkait Dihilangkannya Aksara Dalam Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta kepahlawanan Surabaya

Budaya, Nasionalisme

Rajaoatni.com : SURABAYA – Tandak IRONI menari di panggung pemerintah kota Surabaya. Raperda Pemajuan Kebudayaan KONTRADIKSI dengan Kebijakan Walikota Surabaya sendiri, pasalnya AKSARA sebagai dasar inisiasi Dewan untuk Raperda Pemajuan Kebudayaan dihilangkan. Loh kok bisa?

Penulisan aksara di puncak Balai Kota Surabaya. Foto: par

Pihak-pihak yang mendorong dan menyepakati proses penghilangan objek pemajuan Aksara dalam Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta Kepahlawanan Surabaya surabaya ini nampaknya belummemahami dan menyadari, bahwa aksara itu kunci peradaban, aksara itu bukti kemajuan, dan aksara adalah sarana yang mempermudah edukasi dan penyebarluasan peradaban dan kebudayaan.

Saya menduga para pihak tersebut terjebak dalam tempurung sempit, yaitu rumusan definisi dan sistematika alur berfikir tentang pelajaran aksara latin yang diselenggarakan di sekolah yg prakteknya dilaksanakan untuk tujuan belajar menulis, membaca, berhitung lalu mengucapkan dengan menggunakan suara seperti anak TK dan SD.

Penghilangan objek Aksara dalam Raperda itu tidak selaras dengan upaya walikota dalam memperkenalkan dan menggunakan aksara daerah ini. Foto: par

Padahal dalam kontek masuknya aksara dalam objek Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta Kepahlawanan Surabaya ini tidak sesempit itu, tapi jauh lebih luas, tajam dan dalam.

Ada spirit mitigasi, konservasi, preservasi, dan rehabilitasi obyek kebudayaan lain yang nilainya sangat tinggi yang selama ini terbukti diabaian.

Sebagai contoh seperti keberadaan manuskrip, einskripsi, prasasti, pengetahuan tradisional, olahraga tradisional, seni rupa dll.

Kalau aksara tidak masuk, mustahil spirit besar undang undang pemajuan kebudayaan ini akan bisa dilaksanakan secara maksimal.

Para pihak ini dalam dugaan saya belum sadar, belum siap menerima hidayah tentang sesuatu yang kecil tapi manfaatnya begitu besar. Mereka masih terhipnotis dengan mimpi yang ditanam imperialis kebudayaan, seolah olah melakukan yang besar, tapi mendapatkan manfaat kecil dan kehilangan nilai yang sangat besar.

Aksara daerah adalah wujud kecerdasan tradisional. Hilangnya Objek Aksara tidak selaras dengan penggunaan aksara di lingkungan dinas pendidikan kota Surabaya. Foto: par

Kalau mindset kita mau terbuka sedikit saja, kita akan paham, bahwa kemajuan teknologi yang sekarang ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan kemajuan teknologi leluhur kita dimasa lalu.

Contoh, terkait dengan teknik pemadatan udara yang dilakukan dengan cepat, kalau orang dulu menyebut dan menggunakanya untuk pukulan jarak jauh, dan untuk pertahanan diri (proteksi) yang di beberapa legenda dan sejarah disebut dengan ilmu lembu sekilan,

Teknik mengangkat benda besar dan berat seperti batu, dan arca untuk pembuatan candi, seperti borobudur dan prambanan.

Terhadap hal-hal seperti itu mereka sampai saat ini masih pada fase takjub, kagum, bengong, dan geleng-geleng kepala, belum memiliki atensi untuk melakukan eksplorasi, bagaimana leluhur kita bisa menyelesaikan masalah yang sulit untuk dijelaskan secara pasti melalui keilmuan yang berkembang saat ini.

Hilangnya Objek Aksara ini diduga juga belum dipahaminya oleh pejabat bidang hukum dan protokoler pemerintah Kota Surabaya. Foto: par

Ini rupanya yang belum dan tidak dipahami dan bahkan bisa jadi tidak mau dan berusaha ingin, tidak dipahami, baik oleh pansus, bagian hukum dan dinas pariwisata pemerintah kota Surabaya dan yang terkait lainnya.

Kami ingin mengingatkan, bahwa memahami keberadaan aksara dalam perda ini jangan digebyah uyah seperti merasakan uyah podo asine (red :gatam sama asinnya), tapi perlu memahami konteks landingnya.

Selain itu, kelihatannya pandangan para pihak tersebut masih terjebak dalam sebuah kurungan strategi penghancuran peradaban maju leluhur kita oleh para penjajah.

Menyadari hal itu, harusnya nasionalisme dan intelektualitas kita harus berani melawan, berontak dan berusaha mencari tau, dibalik rahasia itu semua tersimpan harta karun sebesar apa.

Sebagai bangsa, langkah itu perlu, apalagi bagi kita yang baru saja memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

Kebangkitan Nasional itu tidak hanya terkait dengan nilai-nilai yang selama ini sudah sering disampaikan, tapi Jebangkitan Nasional ini juga perlu diterapkan dalam bidang kebudayaan. Supaya budaya-budaya adiluhung yang diwariskan leluhur kita tidak terus menerus tidur dan bermalas-malasan, bahkan mati dan muksa tidak diketahui.lagi kemana rimbanya. (PAR/ton/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *