Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Bakal ada terobosan menarik dalam upaya pengenalan kembali Aksara Jawa di Jawa Timur. Yaitu melalui Kartu Aksara Jawa, yang dipresentasikan oleh aktivis budaya Taufik Monyong.
Belum lama, Taufik “Monyong” Hidayat bersama sejumlah aktivis budaya Jawa menemui Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno di Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur (14/7/26). Ia mempresentasikan cara belajar Aksara Jawa melalui Kartu Aksara Jawa.
Taufik Monyong mempresentasikan permainan Kartu Aksara Jawa di Komisi E DPRD Jatim. Foto; fikBerbeda dengan kartu remi konvensional, yang hanya berjumlah 52 lembar, sementara kartu sebagai wujud inovasi lokal ini terdiri dari 94 kartu. Selain dalam wujud permainan (yang bersifat edukatif),
kartu-kartu tersebut memuat unsur Aksara sebagai manifestasi batin dan Wilangan (bilangan) yang mengajarkan konsep ruang dan waktu tradisional, seperti Saptawara dan Pancawara, serta filosofi tokoh pewayangan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Menurut Taufik Monyong kartu inovatif edukatif ini didesain serbaguna dengan delapan format permainan, mulai dari edukasi umum hingga pembacaan karakter aksaranya.

Setelah mendengar dan memperhatikan presentasi tentang Kartu Aksara Jawa ini, Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno, segera menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jatim agar mulai implementasikan di sekolah yang diawali dari forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Kebijakan ini selaras dan diperkuat oleh payung hukum Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Timur Nomor 36 Tahun 2024, yang mengatur tentang Muatan Lokal (Mulok) “Bahasa dan Aksara Jawa”.
Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Timur Nomor 36 Tahun 2024 ini menetapkan Mata Pelajaran Bahasa Daerah sebagai muatan lokal (mulok) wajib pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), serta Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus di lingkungan Provinsi Jawa Timur.
Melalui regulasi ini, Pengajaran Aksara Jawa bisa diterapkan kembali di sekolah sekolah di Jawa Timur.
Untuk mengawalinya langkah pertama adalah guru guru mata pelajaran terkait akan diberikan tutorial melalui sistem Training of Trainers (ToT), baru kemudian diajarkan di sekolah-sekolah.
Menurut Sri Untari, muatan lokal ini nantinya mendapat porsi sebanding dengan mata pelajaran konvensional.
“Biasanya sekitar dua jam pelajaran,” ujar Sri Untari saat ditemui usai audiensi di Gedung DPRD Jatim.
Proses sinkronisasi metode pembelajaran ini sudah masuk dalam tahap koordinasi final bersama jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sebelum Kartu Aksara Jawa ini diluncurkan secara resmi pada 23 Juli 2026 mendatang.
Langkah ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan literasi tradisional Nusantara yang aplikatif diera digital. (PAR/nng)
