Budaya, Aksara
Rajapatni.com: SURABAYA – Aksara di Surabaya bukan sekedar visual grafis sebagai lambang bunyi bahasa. Aksara di Surabaya adalah sejarah yang bersifat local wisdom (kearifan lokal).
Aksara tidak hanya ada dan ditemukan pada prasasti dan Manuskrip. Tetapi juga ada pada koin yang dicetak (diproduksi) di Surabaya pada era pemerintahan Inggris di Hindia Timur (1811-1816).
Produksi koin Rupee Jawa (dan berbagai koin seperti Doit) di Surabaya pada masa kolonial menjadi simbol pentingnya kota ini sebagai pusat ekonomi dan militer. Keberadaan tempat pencetakan uang (mint) di Surabaya menegaskan posisinya yang strategis sebagai urat nadi perdagangan dan kekuasaan.

Rupee Jawa dicetak dalam aksara Jawa (bersama dengan aksara Arab/Pegon) oleh pemerintah Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles. Hal ini dilakukan sebagai strategi politis untuk mengambil hati masyarakat lokal, dan ini sekaligus membuktikan penghormatan terhadap budaya keraton, dan memudahkan penerimaan mata uang baru tersebut di kalangan pedagang serta rakyat Nusantara serta memudahkan warga lokal memahami isi dan nilai pecahan mata uang itu.
Kini mata uang itu menjadi koleksi langka dan berharga oleh museum Bank Indonesia di Jakarta. Kalau toh ada di masyarakat, nilainya sangatlah mahal. Mahalnya nilai artefak budaya ini sangatlah layak sebagai bentuk penghargaan karena ini menjadi sikap dan bentuk dari upaya penghargaan peninggalan sejarah dan budaya bangsa sebagai underlying assets seperti bagaimana minyak dan gas dapat dijadikan aset dasar negara.
Aksara sebagai bagian dari budaya harus dapat penghargaan yang kelak bisa menjadi aset dasar bangsa secara ekonomi. Inilah sikap menjadikan kekuatan ekonomi yang berbasis budaya. Upaya ini bisa diawali dari sikap menghargai budaya sendiri. (PAR/nng)
