HUT Surabaya: Menanamkan Sifat Śūra (keberanian moral dan spiritual) Sebagai Falsafah Hidup.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Hooligan sepak bola Persebaya memiliki Slogan “Suroboyo Wani” dan “Salam satu nyali, Wani”. Slogan serupa pun digunakan pemerintah Kota Surabaya ”Surabaya Wani”. Kata Wani (bhs Jawa yang artinya Berani”. Diksi “berani” ini digunakan secara turun temurun secara kultural dan sosial.

Berani menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya atau kesulitan. Sifat ini juga didefinisikan sebagai sikap tidak takut, tidak gentar, atau tidak kecut.

Ada kalanya sikap ini melatar belakangi supporter sepak bola yang harus berangkat ke Jakarta untuk mendukung tim kesayangannya tanpa adanya uang saku yang cukup. Mereka berani berangkat dengan tidak (kurang) memperhitungkan bagaimana makannya dan bagaimana tidurnya, termasuk bagaimana cara untuk kembali ke Surabaya. Modalnya hanya Wani (berani).

Kala itu ada fenomena Bonek (Bondho Nekat) atau modal nekat, sebuah kultur militansi suporter fanatik Persebaya Surabaya.

“Bondo nekat” (sering disingkat menjadi Bonek) adalah frasa bahasa Jawa, yang berarti modal nekat. Istilah ini menggambarkan tindakan atau keberanian melakukan sesuatu dengan tekad yang kuat serta keyakinan penuh, meskipun hanya bermodal keberanian atau tanpa persiapan materi yang matang.

Namun makna Berani sebagai arti dari kata Śūrabhaya yang berasal dari bahasa Sansekerta: Śūra berarti sifat berani dan bhaya yang berarti bahaya/tantangan.

Śūra (शूर) refers to “heroic (people)”,

Śūra (शूर) refers to “brave (persons)”,

Śūra (शूर) refers to a King in ancient India, to a level of Deva.

Sifat berani sebagai gambaran keberanian dewa. Foto: ist

Śūra adalah penggambaran sifat berani seorang raja atau dewa yang berarti positif.

Sifat dewa yang bermakna positif adalah kedewataan atau sifat kedewataan. Sifat ini mencerminkan karakteristik luhur, mulia, welas asih, dan welasah. Dalam konsep budaya dan kepemimpinan (seperti Asta Brata), sifat ini biasanya disamakan dengan kemampuan memberikan kehidupan, kesejahteraan, dan perlindungan.

Sifat berani ini jauh dari hal hal, yang merugikan pihak lain. Umumnya sebelum bertindak, mereka telah memikirkan dengan matang agar tindakannya tepat sasaran dengan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Berani yang penuh strategi dan kematangan. Bagaikan Garuda bersayap dewa. Foto: ist

Sifat keberaninya itu muncul karena adanya pertimbangan matang dan strategis, yang membawa kemanfaatan dan kebenaran. Itulah jiwa pahlawan. Tindakan yang didasari jiwa kepahlawanan adalah perbuatan, yang dilakukan dengan keberanian, pengorbanan, dan keikhlasan tanpa pamrih demi membela kebenaran, membantu sesama, atau memajukan kepentingan bangsa dan negara.

Itulah yang tercermin pada sederetan peristiwa Kepahlawanan dengan dasar keberanian yang positif demi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara.

Sifat Śūra seperti inilah, yang diharapkan bisa menjadi dasar dalam pembangunan kota Surabaya sekarang dan mendatang. Sifat berani yang penuh strategi demi kebaikan semua.

Karenanya Kiranya Perlu menanamkan sifat śūra (keberanian moral dan spiritual) sebagai falsafah hidup yang berarti mengendalikan jiwa agar senantiasa teguh membela kebenaran, menguasai hawa nafsu, dan berani mengambil risiko. Ini adalah kekuatan mental yang memadukan ketegasan, kejujuran, dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *