Hari Buku Nasional (17 Mei): Buku Memperluas Perspektif Dan Cakrawala Pandang

Budaya, Literasi

Rajapatni.com : SURABAYA – Ada pepatah yang mengatakan bahwa Buku adalah jendela dunia. Pepatah ini bermakna bahwa membaca adalah kunci untuk melihat, memahami, dan menjelajahi dunia yang luas. Melalui membaca, manusia bisa mendapatkan ilmu, budaya, dan pengalaman baru tanpa harus pergi ke mana mana.

Dipercaya bahwa buku bisa memperluas perspektif dan cakrawala pandang terhadap kehidupan dan berbagai fenomena.

Buku sebagai jendela dunia. Foto: ist

Buku juga sering disebut sebagai sumber pengetahuan. Lewat buku, seseorang dapat mempelajari sejarah peradaban, sains, teknologi, dan karya sastra.

Sebuah komunitas budaya di Surabaya, Puri Aksara Rajapatni, juga melihat buku sebagai jembatan untuk mentransformasikan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki komunitas tersebut dengan sesama (orang lain) sebagai upaya mempromosikan sejarah dan cagar budaya serta budaya.

 

Buku Sketsa Kota Lama Surabaya

Buku Sketsa Kota Lama Surabaya. Foto: par

Belum lama, di bulan April 2026, terbit buku tentang Kota Lama Surabaya yang ditulis dalam aksara Jawa dan Latin serta tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Belanda). Ada maksud tertentu dengan kemasan seperti itu. Yaitu memperkenalkan tradisi literasi aksara Jawa ke dunia luar dan kolaborasi dengan lembaga asing sebagai cara membawa aksara tradisional itu dikenal oleh masyarakat global. Itu menjadi dasar penulisan buku yang berjudul “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya”.

 

Buku Tentang Perjuangan Bung Tomo

Buku tentang Bung Tomo dan Rumah di Mawar 10-12 Surabaya. Foto: par

Ada lagi satu isu, yang menjadi kepedulian komunitas ini. Yaitu hilangnya rumah bersejarah yang termasuk bangunan cagar budaya. Yaitu rumah dan bangunan yang menjadi tempat/situs Bung Tomo dalam membakar arek arek Surabaya untuk berani melawan datangnya Sekutu yang hendak kembali menjajah Indonesia. Apalagi Pasukan Sekutu itu diboncengi oleh serdadu Belanda.

Bung Tomo mengobarkan semangat perlawanan arek arek Surabaya untuk menghadapi tentara Sekutu yang masuk Surabaya pada 25 Oktober 1945. Karena rakyat Surabaya yang jiwanya dibakar oleh Bung Tomo melalui siaran siaran dan pidato melalui corong radio yang dipancarkan melalui rumah di jalan Mawar 10-12 Surabaya itu akhirnya pecah perang besar pada 10 November 1945.

Perang besar inilah yang dijadikan presiden Soekarno sebagai pertimbangan penting lahirnya Hari Pahlawan Nasional pada 10 November 1945. Saksi historisnya adalah rumah di jalan Mawar 10 -12 Surabaya.

Tetapi pada Mei 2016, bangunan bersejarah bagi bangsa Indonesia yang ada di Surabaya itu dibongkar dan didirikan bangunan baru yang bersifat pribadi. Inilah yang menjadi dasar pemikiran ditulisnya sebuah buku yang berjudul “Jejak Perjuangan Bung Tomo di Mawar 10-12 Surabaya”.

Penulisan buku ini juga telah mendapat persetujuan dari keluarga Bung Tomo. Pada Sabtu (16/5/26) putera Bung Tomo, Bambang Sulistomo berada di Surabaya dan buku baru ini sudah sempat dibacanya.

Bambang Sulistomo (putera Bung Tomo) dan penulis Nanang Purwono di Sheraton Hotel Surabaya. Foto: par

“Cak Nanang, sepanjang saya membaca tulisan-nya, saya ikut merinding……matur suwun Cak” begitu kesan Bambang Sulistomo setelah membaca buku yang sengaja dihadiahkan untuknya.

Buku baru dengan 155 halaman itu mengisahkan cerita sejarah bagaimana Bung Tomo berpidato dan membakar semangat arek arek Surabaya, bagaimana rumah bersejarah itu dibongkar, serta bagaimana upaya arek arek pegiat sejarah Surabaya ingin mengembalikan nilai nilai sejarah hingga harus bersurat kepada presiden yang pada akhirnya Presiden Prabowo Subianto menanyakan keberadaan rumah bersejarah itu di hadapan rapat koordinasi kepada daerah se Indonesia pada 2 Februari 2026.

 

Berbagi ilmu dan Pengetahuan

Akhirnya atas berkat dan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, buku tersebut dapat diselesaikan di bulan Mei 2026 sebagai kado HUT Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733.

Melalui dua buku yang ditulis oleh komunitas Puri Aksara Rajapatni sehingga para pembaca bisa mengenali sejarah Kota Lama Surabaya dan perjuangan Bung Tomo melalui siaran siaran radionya serta permasalahan isu cagar budaya di Surabaya.

Dengan begitu Komunitas Puri Aksara Rajapatni, berhasil menghadirkan memori sejarah Kota Lama dan perjuangan Bung Tomo. Dua karya tersebut yaitu buku Sketsa Kota Lama Surabaya dan buku reportase sejarah perjuangan yang merekam jejak Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar No. 10 – 12 Surabaya.

Masih ada lagi kisah kisah lainnya yang perlu diabadikan melalui buku sebagai jembatan pengetahuan. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *