Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Komoditas Emas, Minyak, dan Pertanian adalah sebagian dari aset fisik yang sering digunakan dalam kontrak berjangka dan memiliki nilai intrinsik yang kuat.
Sekuritisasi aset kredit, termasuk kredit Usaha Kecil dan Menengah (UKM), juga semakin potensi untuk dijadikan underlying (dasar) karena sifatnya yang homogen dan membantu perputaran modal.
Juga ada Obligasi Pemerintah dan Korporasi, yang berperingkat investasi tinggi dan bisa menjadi dasar yang aman untuk produk reksa dana pendapatan tetap.
Mengapa Aset Ini Potensial?
Aset-aset di atas dipilih karena stabilitas nilai, kemampuan menghasilkan arus kas (pada sektor riil/infrastruktur), atau likuiditas yang tinggi (pada saham/emas), yang krusial untuk memberikan rasa aman dan imbal hasil kepada investor.
Secara umum, underlying asset sendiri adalah aset nyata atau finansial yang menjadi dasar penentuan harga dari sebuah instrumen keuangan.

Jangan lupa, Budaya Indonesia juga merupakan aset yang tak ternilai dan harus terus dijaga agar tidak punah, serta menjadi identitas bangsa. Dalam konteks yang lebih luas, budaya dapat dipandang sebagai aset warisan budaya (heritage assets) yang mencakup benda berwujud, situs, monumen, hingga warisan tak benda (intangible cultural heritage).
Bisa dong budaya menjadi underlying asset seperti Emas, Minyak, dan Pertanian. Apalagi Indonesia diharapkan bisa menjadi Ibukota Budaya Dunia. Karena itu bangsa Indonesia harus bisa menghargai aset budayanya sendiri.

Kebudayaan Indonesia sungguh memiliki potensi luar biasa sebagai underlying asset yang tak ternilai, layaknya emas atau komoditas lainnya, jika dikelola dengan pendekatan ekonomi kreatif yang tepat.
Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan mesin penggerak ekonomi baru (ekonomi budaya) yang dapat menciptakan lapangan kerja dan pariwisata. Seni, kerajinan tangan, kuliner, dan tradisi lokal adalah bentuk aset yang menghasilkan nilai tambah.
Dengan kekayaan megadiversity (lebih dari 17.000 pulau dan ratusan suku), Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia, bahkan didorong menjadi ibu kota kebudayaan global.

Kekayaan budaya Indonesia seperti batik, angklung, gamelan, wayang, dan tari saman telah diakui dunia. Hal ini menegaskan bahwa aset budaya Indonesia memiliki daya saing global.
Hargai Budaya Sendiri
Untuk itu bangsa Indonesia harus menghargai aset budaya sendiri dengan tidak hanya melestarikan (perlindungan), tetapi juga mengembangkan (living heritage) agar memberikan manfaat ekonomi dan sosial berkelanjutan.
Hal ini sempat disinggung oleh pembina Puri Aksara Rajapatni, A. Hermas Thony, dalam sambutannya pada peringatan Hari Warisan Budaya Dunia dalam satu rangkaian peringatan Hari Kartini, yang diadakan oleh Bank Indonesia wilayah Jawa Timur di Museum Bank Indonesia (De Javasche Bank) Surabaya pada Minggu (26/4/26).
Thony mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia sangat berpotensi sebagai underlying asset seperti halnya potensi emas, minyak, pertanian dan obligasi pemerintah.

Sementara itu, pendiri komunitas budaya Aksara Jawa, Ita Surojoyo, juga berkomentar bahwa karya karya dan kreativitas seni budaya agar tidak dihargai murah dan ala kadarnya, namun proporsional supaya karya seni budaya ini dapat menjadi tumpuan penghasilan yang mensejahterakan bagi pekerja seni.
Melalui peringatan Hari Warisan budaya dunia yang baru saja selesai digelar ada muatan yang bersifat mengingatkan semua pihak akan perlunya menghargai budaya sendiri sebagai bagian dari budaya global.
Melestarikan budaya sendiri berarti menjaga warisan leluhur dan memperkuat identitas nasional. Budaya adalah fondasi ekonomi dan identitas yang bernilai ekonomis tinggi. (PAR/nng).
