Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA Pecahan uang dengan gambar gambar yang menyertai adalah identitas suatu pangsa pemilik uang.
Gambar pada pecahan uang ini, terutama uang kertas rupiah, bukan sekadar hiasan, melainkan identitas bangsa, simbol kedaulatan, dan alat pemersatu negara.
Berdasarkan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, rupiah merepresentasikan jati diri bangsa Indonesia. Karenanya pada pecahan mata uang, utamanya yang kertas terdapat ciri ciri gambar yang menjadi identitas bangsa.
Pahlawan Nasional (Penghormatan Sejarah). Gambar pahlawan pada bagian depan uang adalah bentuk penghormatan atas jasa-jasa mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Misalnya pada pecahan Rp100.000, ada gambar Dr. (H.C) Ir. Soekarno dan Dr. (H.C) Drs. Mohammad Hatta.
Kebudayaan dan Alam
(Sisi belakang) menampilkan tarian tradisional, pemandangan alam, dan flora/fauna khas yang melambangkan kekayaan budaya nusantara.
Simbol Kedaulatan.
Lambang negara “Garuda Pancasila” selalu dicantumkan, menegaskan bahwa uang tersebut adalah alat pembayaran sah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.
Aksara Daerah
Sebagai sebuah negara yang khas dan berbhineka, ada satu ciri yang ketinggalan. Yaitu aksara Daerah. Aksara daerah ini membedakan dari lainnya (negara lain)
Seharusnya penulisan aksara daerah bisa dipakai untuk penegasan alam dan kebudayaan (tari) pada pecahan mata uang. Misalnya pada uang kertas pecahan Rp100.000 (Tahun Emisi 2022/2016) menampilkan gambar utama Dr. (H.C.) Ir. Soekarno dan Dr. (H.C.) Drs. Mohammad Hatta di bagian depan. Bagian belakang menampilkan gambar Gedung MPR/DPR/DPD (pada TE 2016) atau kombinasi Tari Topeng Betawi, Raja Ampat, dan Anggrek Bulan (pada TE 2022).

Gambar itu bisa ditulis dengan aksara daerah di mana lokasi itu berada. Bahwa Jakarta dekat dengan Provinsi Bandung yang kuat dengan aksara Sunda, maka gambar pada uang kertas pecahan. 100.000, bisa ditulis dengan aksara Jawa untuk Topeng Betawi /ꦠꦺꦴꦥꦺꦁꦧꦼꦠꦮꦶ/.

Sedangkan uang kertas pecahan Rp100.000 yang bergambar Tari Legong yang asal Bali, maka tari Legong bisa ditulis dalam aksara Bali yang berbunyi /ᬍᬕᭀᬂ/.
Pun demikian dengan uang kertas pecahan 20.000 yang bergambar Tari Gong dari daerah Kalimantan Timur, bisa menggunakan akan aksara Pallawa yang berbunyi /…../
Demikian juga pada uang kertas pecahan 5.000 yang bergambar tari Gambyong yang bisa ditulis dengan aksara Jawa yang berbunyi /ꦒꦩ꧀ꦧꦾꦺꦴꦁ/

Penulisan aksara daerah sesuai tarian daerah ini tidak berlebihan karena negara negara sahabat juga dengan bangga dituliskan pada pecahan mata uang mereka seperti India, China, Jepang dan Korea.


((PAR/nng)
