Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Tidak dipungkiri bahwa Aksara Dewanagari dari India memainkan peran penting sebagai penanda identitas pada koin-koin awal di Nusantara, khususnya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.
Misalnya pada penggunaan Koin Emas/Perak di Abad ke-8 – ke-12. Koin emas dan perak masa Jawa kuno (abad ke-9 hingga awal abad ke-10) sering kali dicap dengan karakter aksara Nagari (bentuk awal Dewanagari) di satu sisi.

Identitas Denominasi/Berat (“Ta”). Sebagian besar koin emas awal ditandai dengan huruf “ta” (ta) dalam aksara Nagari, yang dianggap sebagai singkatan dari tahil, satuan berat mata uang pada masa itu.
Kemudian juga ada Identitas di Era Majapahit (“Ma”). Pada masa itu, koin yang digunakan seringkali memiliki huruf “ma” (ma) dalam aksara Dewanagari. Uang ini juga populer disebut “uang ma”.
Ini adalah pengaruh India. Penggunaan aksara ini menunjukkan pengaruh kuat kebudayaan dan bahasa Sanskerta yang berkembang di Nusantara, khususnya pada abad ke-7 hingga ke-9 Masehi.
Aksara Dewanagari juga ditemukan pada koin-koin yang dikaitkan dengan kerajaan Sriwijaya (600-1200 M). Aksara ini berfungsi sebagai cap resmi yang menandakan otoritas, nilai, atau berat koin tersebut dalam sistem perdagangan awal di Nusantara.

Penggunaan aksara Dewanagari (dan aksara terkait seperti Nagari atau turunan Gupta) yang sangat kuat pada satuan mata uang di awal-awal Nusantara (khususnya masa kerajaan Mataram Kuno/Syailendra abad ke-8 hingga ke-10 M) disebabkan oleh pengaruh budaya dan keagamaan India yang mendalam (Indianisasi). Aksara ini sering ditemukan pada koin-koin emas dan perak berukuran kecil (seperti koin Masa atau Kupang.
Aksara Dewanagari/Nagari terutama digunakan untuk menuliskan bahasa Sanskerta, bahasa suci agama Hindu dan Buddha. Pada koin, tulisan ini umumnya merujuk pada nama raja, suku kata sakral (seperti “Ta” atau “Ma”, yang sering ditafsirkan sebagai Masa), atau mantra, yang memberikan nilai magis dan religius pada koin tersebut.
Ini menunjukkan adanya pengaruh India ke Nusantara yang melalui jalur perdagangan dan keagamaan. Raja-raja Nusantara mengadopsi tradisi India, termasuk penggunaan aksara, untuk legitimasi kekuasaan. Menggunakan Dewanagari di koin menonjolkan prestise kerajaan yang mengacu pada kebudayaan India utara yang maju.

Koin emas/perak (kerap disebut Krishnala atau uang Masa) ini mencerminkan kedaulatan kerajaan (seperti Mataram Kuno) dan digunakan secara aktif di pelabuhan-pelabuhan dagang. Dewanagari digunakan untuk menegaskan bahwa koin tersebut sah dan berasal dari kerajaan yang beradab.
Aksara Dewanagari pada koin awal Nusantara adalah bukti nyata akulturasi budaya, di mana pengaruh India diserap oleh komunitas lokal (local genius) untuk kebutuhan ekonomi dan kedaulatan lokal.
Kini masih ada jejak uang koin kuno itu dalam koleksi numismatika. Namun keberadaannya sangat langka. (PAR/nng)
