Komparasi Peninggalan Majapahit Vs Oxford

Budaya, Aksara, Bahasa

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ketika saya berada di lingkungan kampus Oxford UK pada 2017, saya terkagum dengan peninggalan bangunan dari abad 11, yang masih berdiri megah. Memasuki abad 14 – 15, masyarakat Inggris memang mulai menggunakan bahasa Inggris Pertengahan (Middle English) dari sebelumnya yang menggunakan bahasa Anglo Saxon dan Latin.

Sementara kalangan bangsawan seperti Raja Henry II masih lebih sering berkomunikasi menggunakan bahasa Prancis dan Latin, namun memahami beberapa bahasa termasuk Inggris.

Ketika tahun 2017, sudah lebih dari 950 tahun, masyarakat Inggris masih bisa mengerti bahasa yang pernah digunakan pada abad 14. Ini karena ada keberlanjutan penggunaan bahasa Inggris.

 

Komparasi

Jika dibandingkan dengan di Nusantara, bahasa yang pernah digunakan pada abad 14 sudah berbeda dengan abad 21. Di abad 14 bahasanya adalah bahasa Jawa Kuno (Kawi). Sedangkan di abad 21 bahasanya adalah bahasa Indonesia.

Bahasa Jawa Kuna merupakan bahasa utama di wilayah inti Majapahit (Jawa Timur dan Jawa Tengah) serta digunakan luas dalam dokumen pemerintahan dan penulisan karya sastra agung seperti Kitab Negarakertagama. Meski Bahasa ini banyak menyerap kosakata dari bahasa Sanskerta.

Pada Era Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) di Nusantara, ternyata sezaman dengan periode abad Pertengahan Akhir (Late Middle Ages) hingga awal masa Renaisans di Eropa. Pada abad ke-14 dan ke-15 misalnya, Oxford sudah berkembang menjadi pusat intelektual yang bergolak dan sangat dinamis.

 

Majapahit Vs Oxford

Universitas Oxford UK. Foto: ist

Jika dibandingkan antara era Kerajaan Majapahit (abad 14) dan era Oxford (abad 14), keduanya menampilkan kesan visual yang kontras. Peninggalan di Oxford masih berdiri tegak hingga abad 21. Sementara peninggalan Kerajaan Majapahit sudah lama menjadi serpihan.

Situs Tribuwa Tunggadewi. Foto:ist

Pun demikian dengan Bahasa sebagai wujud budaya tak benda (intangible). Masyarakat Inggris pada masa sekarang masih bisa mengerti bahasa Inggris yang digunakan pada abad 14-15. Sementara di Jawa, masyarakatnya sudah tidak mengerti bahasa Jawa Kuna (Kawi).

Sekarang di Jawa kita tidak bisa mendengarkan suatu bunyi bahasa bagaimana masyarakat Majapahit berkomunikasi dalam bahasa Jawa Kuna. Sementara bahasa Jawa Kuna masih banyak tertulis dalam prasasti yang menggunakan aksara Jawa Kuna.

 

Aksara Menjadi Backbone

Tanpa mengenal tulisan aksara Jawa Kuna, kita tidak mengerti (mendengar) bagaimana bunyi bahasa Jawa Kuna.

Seorang peletak dasar linguistik modern Herman Neubronner Van Der Tuuk (1824-1894) mempelajari bahasa bahasa daerah dan membuat kamus bahasa daerah dengan metode yang sangat cermat, di mana ia menyertakan aksara asli daerah dan transkripsi bunyi untuk memastikan pelafalan yang akurat.

Karenanya dalam penyusunan kamusnya. Ia juga menyertakan aksara daerah (seperti Jawa) sebagai cara bagaimana mengucapkan pelafalan dan bunyi suatu kosa kata.

Dari metode Van der Tuuk ini dapat diketahui bahwa tanpa mengetahui tulisan asli berdasarkan aksara daerah, kita kurang bisa memahami pengucapan dan bahkan makna bahasa.

Dalam kajian linguistik Nusantara, aksara daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat rekam bunyi, tetapi juga menyimpan struktur fonologi, morfologi, dan semantik yang unik.

Melalui metode filologi dan linguistik komparatif, yang dirintis Herman Neubronner van der Tuuk (peletak dasar linguistik modern untuk bahasa Melayu, Jawa, Batak, dan Bali), terdapat beberapa alasan utama mengapa tulisan asli krusial.

Misalnya kata dengan bunyi Śūrabhaya berbeda dari Surabaya. Śūrabhaya berarti berani menghadapi bahaya. Sementara Surabaya berarti buaya minum minuman keras yang memabukkan semacam alkohol.

Karenanya untuk memahami bahasa dalam linguistik, diperlukan pemahaman aksara dalam Paleografi (belajar aksara)

 

Pemahaman Paleografi

Prasasti Wurare di lapik Arca Joko Dolog beraksara Jawa Kuno. (Kawi). Foto: ist

Pemahaman aksara melalui Paleografi sangat krusial dalam linguistik, khususnya untuk mengkaji bahasa-bahasa historis. Ilmu ini membantu ahli bahasa membaca teks kuno secara akurat, melacak evolusi sistem penulisan dari masa ke masa, serta menentukan konteks ruang dan waktu suatu bahasa.

H.N. van der Tuuk (1824–1894) sebagai peletak dasar linguistik modern Nusantara merevolusi filologi dengan membaca naskah kuno langsung ke sumbernya, meneliti paleografi aksara Kawi (Jawa Kuno), Batak, dan Bali. Metodenya membuktikan bahwa evolusi bentuk huruf adalah kunci untuk merekonstruksi sejarah bahasa dan dialek. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *