Budaya, Sejarah,
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sebuah arca dengan lapik beraksara Jawa Kuna (Kawi) dalam prasasti Wurare berada di belakang Taman Apsari Surabaya. Arca ini bersifat Budha. Dialah arca Joko Dolog, yang menjadi perwujudan Raja Singasari terakhir, Raja Kertanegara (1268 – 1292). Arca ini duduk bersila dengan sikap tangan Bhumisparsa mudra (sikap memanggil bumi sebagai saksi).
Berdasarkan beberapa sumber literasi, Arca Joko Dolog (Buddha Mahasobhya), yang merupakan peninggalan Kerajaan Singasari, dipindahkan dari Trowulan, Mojokerto pada tahun 1817 oleh pemerintah kolonial Belanda di Surabaya. Rencananya arca tersebut akan dibawa ke Belanda, namun gagal karena terlalu berat sehingga ditinggalkan di Surabaya.
Jejak Riwayat

Jejak riwayat Raja Kertanegara di Surabaya tidak hanya tercatat pada riwayat perpindahan arca Joko Dolog dari Trowulan ke Surabaya pada awal abad 19, namun ada literasi lain yang ditulis oleh sejarawan GH von Faber dalam bukunya “Er Werd Een Stad Geboren (Sebuah Kota Telah Terlahir), 1953.
Dalam buku ini Raja Kertanegara diilustrasikan membuka pemukiman baru di antara dua sungai Kalimas dan Pegirian, yang dinamakan Śūrabhaya pada 1275 M. Pemukiman baru ini diperuntukkan bagi para jawara, pendekar, dan satria yang berjasa dalam penumpasan pemberontakan Kanuruhan pada 1270.
Letak Śūrabhaya

Kawasan Śūrabhaya ini diyakini terletak di delta sungai antara Kali Kalimas (Barat) dan Kali Pegirian (Timur), yang kini meliputi wilayah Pengampon, Semut, Pandean Lor, Kalianyar dan Bunguran.
Permukiman tersebut diperuntukkan bagi para prajurit, jawara, dan pendekar (para pemberani) yang berjasa membantu Raja Kertanegara dalam menumpas pemberontakan Kanuruhan (Kemuruhan) pada 1270 M.
Lokasi Kanuruhan
Pemberontakan Kanuruhan (atau Kemuruhan) pada tahun 1270 M terjadi di wilayah Jawa Timur, tepatnya di wilayah kekuasaan Kerajaan Singasari pada awal masa pemerintahan Raja Kertanegara.

Lokasi pemberontakan itu berpusat di jantung Kerajaan Singasari (Tumapel), yang saat ini diidentifikasi berada di daerah Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Peristiwa pemberontakan ini dipimpin oleh seorang tokoh, yang disebut sebagai Cayaraja atau Kalana Bhaya, yang dilatarbelakangi oleh kekecewaan pendukung Wangsa Rajasa dan ketidakpuasan para pejabat lama akibat perombakan kabinet yang dilakukan oleh Kertanegara. Salah satunya adalah penurunan pangkat Arya Wiraraja, yang kemudian dimutasikan ke Sumenep, Madura.
Berdasarkan catatan sejarah klasik, yang dikaji ulang oleh sejarawan (seperti G.H. von Faber), kisah penumpasan ini berujung pada pemberian izin oleh Raja Kertanegara kepada para jawara pemberani tersebut untuk tinggal di pemukiman baru, yang selanjutnya, kawasan permukiman ini dikenal dengan nama Śūrabhaya.
Prasasti Canggu

Sesuai dengan namanya “Śūrabhaya”, sebagaimana ditulis pada masa Kerajaan Majapahit dengan Raja Hayam Wuruk dalam aksara Jawa Kuno (Kawi), Śūrabhaya, yang dalam bahasa Sansekerta berarti Śūra = Pemberani dan Bhaya = bahaya. Ringkasnya Śūrabhaya adalah para pemberani dalam menghadapi bahaya.
Secara faktual bahwa nama Śūrabhaya sebagai deça Naditira Pradeça tercatat dalam piagam resmi, yang dikeluarkan oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk (Raja Keempat Majapahit) pada 7 Juli 1358 M.
Silsilah
Dalam silsilah kerajaan, Raja Hayam Wuruk adalah putra Raja Tribhuwana Tunggadewi (Raja Ketiga Majapahit), yang merupakan putri Dyah Gayatri Rajapatni (istri Raja Pertama Majapahit Raden Wijaya). Dyah Gayatri Rajapatni adalah salah satu anak Raja Kertanegara.
Suksesi
Kerajaan Singasari / Tumapel (1222–1292) berlanjut ke Kerajaan Majapahit (1293–1478, berdasarkan Candrasengkala “Sirna ilang kertaning bumi”).
“Sirna ilang kertaning bumi” adalah sebuah kalimat sengkalan (kronogram Jawa), yang bermakna “lenyapnya kemakmuran dari bumi”. Kalimat ini merujuk pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi, yang secara simbolis menandai runtuhnya Kerajaan Majapahit.
Berikut silsilah raja Majapahit hingga era Hayam Wuruk:
1. Raden Wijaya (Sri Kertarajasa Jayawardana) : 1293–1309
2. Jayanegara (Kala Gemet) : 1309–1328
3. Tribhuwana Wijayatunggadewi (Sri Gitarja) : 1328–1350
4. Hayam Wuruk (Rajasanagara) : 1350–1389.
Prasasti Canggu dan Kertanegara (Hipotesa von Faber).
Ini sebuah hipotesis dan dugaan.
Hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara terhadap suatu masalah yang dirumuskan secara ilmiah. Berbeda dengan sekadar tebakan biasa, hipotesis dibangun berdasarkan teori atau fakta awal yang kemudian harus diuji kebenarannya melalui pengumpulan data dan metode penelitian yang sistematis.
Dugaan (Conjecture / Guess): Gagasan atau prediksi awal yang sifatnya sangat subjektif, bisa muncul dari intuisi, pengalaman pribadi, atau pengamatan sepintas, dan seringkali belum didukung oleh literatur akademis.
Hipotesis (Hypothesis): Dugaan yang telah terstruktur secara rasional. Hipotesis diturunkan dari kajian pustaka atau teori yang relevan, sehingga memiliki dasar yang kuat untuk diuji secara empiris melalui eksperimen atau analisis statistik
Fakta: Fakta adalah suatu hal, keadaan, atau peristiwa yang benar-benar ada dan terjadi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta diartikan sebagai sesuatu yang menjadi kenyataan dan dapat dibuktikan kebenarannya.
Prasasti Canggu adalah fakta Sejarah, yang bendanya dikeluarkan pada 1358 di era Raja Majapahit Hayam Wuruk (1350–1389).
Śūrabhaya (1275) adalah hasil hipotesis sejarawan GH Von Faber sebagaimana ditulis dalam buku “Er Werd Een Stad Geboren” (1953).
Raja Kertanegara, yang membuka lahan permukiman baru yang diberi nama Śūrabhaya, memerintah Kerajaan Singasari dari tahun 1268 hingga 1292 Masehi. Ia merupakan raja terakhir sekaligus raja terbesar Singasari yang terkenal dengan ambisinya menyatukan wilayah Nusantara.
Ketika Arca Joko dolog, sebagai perwujudan Raja Kertanegara, gagal dibawa ke Belanda pada awal abad 19, dan akhirnya berdiam di Surabaya, peristiwa ini memberi petunjuk seolah Kertanegara “ingin berdiam” di daerah yang dibukanya pada 1275 M.
Apakah demikian? Ini adalah hipotesis/dugaan atas cerita tua yang menjadi bagian dari sejarah Surabaya.
Benang Merah
Jadi, setidaknya ada benang merah yang menjadi keterkaitan Śūrabhaya (1275 M) – Kertanegara (1268–1292 M) – Joko Dolog (1289 Masehi) – Er Werd Een Stad Geboren (1953)
Apresiasi

Arca Joko Dolog dibuat tahun 1289 sebelum Raja Kertanegara wafat pada 1292. Alasannya sebagai bentuk penghormatan atas ajaran Buddha Tantrayana, yang dianut Raja Kertanegara. Arca ini juga berfungsi sebagai simbol peringatan persatuan Nusantara (Wawasan Nusantara) yang dicetuskan oleh sang raja melalui Ekspedisi Pamalayu.
Pada tahun 1289, Raja Kertanegara sedang gencar melakukan ekspedisi militer dan diplomasi, yang dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu, untuk menyatukan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara. Arca dan prasasti Wurare yang menyertainya menjadi simbol kekuatan politik dan persatuan wilayah.
Ekspedisi Pamalayu dilaksanakan pada masa pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, yang berlangsung dari tahun 1275 hingga 1293 Masehi. Misi militer dan diplomasi ini bertujuan untuk menguasai wilayah Sumatera dan membendung pengaruh Kubilai Khan di Nusantara.
Ekspedisi Pamalayu

Ekspedisi Pamalayu adalah perjalanan yang dilakukan pada tahun 1275 Masehi dan merupakan upaya raja Kertanegara untuk memperluas wilayah kekuasaan Singasari. Istilah “Pamalayu” ditemukan dalam Kitab Pararaton, pada tahun 1600 Masehi. Istilah ini diambil dari Bahasa Jawa Kuno yang memiliki arti perang melawan Melayu.
Ekspedisi Pamalayu ini ditujukan untuk melakukan inspeksi pada Kerajaan Melayu karena wilayah Singasari yang luas dan terbentang dari pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya.
Kerajaan Singasari di luar Jawa meliputi Bali, Kalimantan Barat Daya, Maluku, Sunda, dan Pahang. Sedangkan Kerajaan Melayu di Dharmasraya, yang kala itu dipimpin oleh raja Sriman Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, menjadi kawasan bawahan dari kerajaan Singasari.
Gagasan Wawasan Nusantara
Gagasan Wawasan Nusantara oleh Raja Kertanegara (1268–1292 M) dikenal sebagai konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, yaitu visi politik pertama yang bertujuan menyatukan seluruh kepulauan Nusantara di bawah supremasi Kerajaan Singasari. Konsep ini memadukan kekuatan maritim dan diplomasi untuk menghadapi ancaman ekspansi Kekaisaran Mongol dari Utara.

Dari gagasan, selanjutnya lahirlah Sumpah Palapa di era kerajaan Majapahit. Sumpah Palapa ini diikrarkan oleh Mahapatih Gajah Mada pada 1336 M dan merupakan kelanjutan dan perwujudan dari gagasan persatuan Nusantara yang sebelumnya telah dirintis oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari pada abad ke-13.

Pada era pergerakan bangsa Indonesia, rangkaian Wawasan Nusantara (1268 -1292 / masa raja Kertanegara) dan Sumpah Palapa (1336) masa Raja Kertanegara, lalu dikuatkan dalam Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 1928. Sekarang jadilah Indonesia.

Kembali ke Budaya Nusantara

Foto: sur
Deskripsi di atas adalah esensi diskusi sejarah bersama Laksda (purn) TNI AL Untung Surapati / Ki Ageng Śūra dalam upaya bersama kembali ke budaya Nusantara. (PAR/nng).
