Surabaya: Punden & Tradisi

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – “Dimana ada punden, di situ ada tradisi”. Ungkapan ini tepat sekali karena punden (makam leluhur atau cikal bakal desa) selalu lekat dengan tradisi komunal yang diwariskan turun-temurun. Di daerah Jawa, keberadaan punden biasanya menjadi pusat dari berbagai kegiatan budaya, tolak bala, dan ungkapan rasa syukur.

Punden adalah situs sakral atau makam leluhur cikal bakal desa, yang dihormati dalam budaya masyarakat, khususnya di Jawa. Sementara Tradisi yang mengiringinya, seperti Nyadran atau Bersih Desa, merupakan bentuk penghormatan, wujud syukur, dan pelestarian identitas budaya turun-temurun.

Di kota Surabaya banyak punden yang tersebar baik di kawasan yang tidak jauh dari sungai sebagai sumber kehidupan, maupun yang jauh di pedalaman (jauh dari sungai). Khususnya yang jauh di pedalaman, masih bisa ditemui tradisi bersih desa atau nyadran setiap tahunnya. Misalnya di wilayah Lakarsantri dan Tandes (Surabaya Barat), tradisi bersih desa masih mewarnai kehidupan masyarakatnya.

Tradisi bersih desa dan nyadran di kawasan pedalaman Surabaya, seperti Lakarsantri dan Tandes, bukan sekadar warisan budaya. Praktik ini menjadi wujud harmonisasi antara manusia, alam, dan leluhur, serta berfungsi sebagai benteng pelestarian budaya di tengah pesatnya urbanisasi perkotaan. Tradisi ini menjadi pilar penting untuk menjaga keseimbangan spiritual dan ekologis. Praktik ini merekatkan kehidupan warga perkotaan melalui serangkaian prosesi tradisi yang bermakna.

 

Desa Made

Tradisi sedekah bumi di desa Made Surabaya. Foto: ist

Di Desa/Kelurahan Made, Bersih (Pembersihan) desa dimana warga bergotong royong membersihkan lingkungan dan makam leluhur dari kotoran.

Selain itu juga diiringi Kirab & Sesaji di punden desa Singojoyo. Arak-arakan gunungan hasil bumi ini cukup ramai dan menyita perhatian masyarakat kota. Dalam perayaan ada tontonan Okol (gulat tradisional) dan warga melakukan open house dimana tamu dijamu aneka makanan dan olahan

Biasanya diiringi dengan Doa Bersama & Kenduri sebagai puncak acara di mana warga mendoakan arwah leluhur, yang dipimpin oleh pemangku adat dan dilanjutkan dengan makan bersama.

Di Punden Mbah Singo Joyo (Desa Made, Surabaya), warga memang rutin menggelar tradisi Sedekah Bumi setiap bulan September atau Oktober sebagai rasa syukur. Ritual utamanya meliputi doa bersama di punden, kirab gunungan, pertunjukan seni (wayang/ludruk), dan tradisi khas Gulat Okol.

 

Raya Lontar

Di kawasan Jl. Raya Lontar, Surabaya juga telah  tumbuh tradisi reog yang biasanya digelar untuk acara hajatan warga (pernikahan/khitanan) atau perayaan budaya. Jadwalnya bersifat situasional, menyesuaikan agenda warga setempat. Sebelum hajatan digelar, warga setempat biasanya kirim doa di punden lokal.

Punden tidak lepas dari agenda agenda tradisi. Punden dan agenda tradisi di tanah Jawa (termasuk di wilayah Surabaya dan sekitarnya) adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Punden berfungsi sebagai tempat yang disakralkan untuk menghormati leluhur, dan keberadaannya selalu menjadi pusat dari berbagai bentuk ritual yang turun-temurun. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *