Uang Nusantara Dari Aksara Nagari ke Aksara Jawa dan Latin. 

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Pada abad 8 koin emas dan perak Nusantara mulai dibuat. Inilah koin Nusantara awal. Koin-koin awal ini sering disebut sebagai mata uang emas atau perak pada masa Mataram Kuno, sekitar tahun 850-an M. Umumnya berbentuk kecil dan digunakan di kerajaan-kerajaan Jawa.

Uang koin terbuat dari emas. Foto: ist

Memasuki abad ke-10, Jawa memiliki satu ekonomi paling kompleks di Asia Tenggara. Terlepas dari pentingnya pertanian padi yang menjadi sumber pendapatan pajak utama bagi istana Jawa, masuknya perdagangan laut di Asia, khususnya dengan Tiongkok dan India, antara abad ke-10 dan ke-13 memaksa perekonomian Jawa untuk menggunakan mata uang yang lebih praktis.menjadi katalisator utama pergeseran sistem mata uang di Jawa. Mata uang dari Tiongkok dan India ini menjadi katalisator utama pergeseran sistem mata uang di Jawa.

Sejumlah uang koin emas dari abad 8. Foto: ist

Akibatnya sebutan mata uang di Jawa menggunakan identitas India dan Tiongkok. Hal itu karena ada pengaruh interaksi budaya dan perdagangan, yang panjang dengan India dan Tiongkok sehingga menyebabkan sistem moneter di Jawa kuno mengadopsi identitas asing khususnya dalam sebutan mata uangnya. Hal ini terjadi karena mata uang asing tersebut beredar luas dan kemudian mempengaruhi terminologi lokal.

Penyebutan mata uang Ma , Ta, dan Wi merupakan contoh nyata penggunaan satuan mata uang lokal yang terbuat dari emas dan perak di Nusantara, khususnya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha seperti Mataram Kuno, Jenggala, hingga Majapahit.

 

Ma (Māsa/Masa): 

Merupakan singkatan dari māsa. Uang ini umumnya berbentuk koin emas atau perak dengan tulisan Nagari atau Jawa Kuna, dan digunakan secara luas di wilayah Jawa.

 

Ta (Tahil): 

Merupakan satuan yang lebih besar dari Ma, disingkat dari tahil. Uang emas/perak dengan tulisan Ta ini sering ditemukan dan memiliki berat yang setara dengan satuan māsa dalam sistem hitungan kuno.

 

Wi/Wir (Wira):

Merupakan bagian dari serangkaian mata uang kuno yang beredar di wilayah Majapahit. Mata uang ini sering kali beredar bersamaan dengan uang gobog (tembaga/kuningan) di masa kerajaan Majapahit.

Selain itu bahkan hingga sekarang penyebutan uang dengan diksi “Perak” juga masih dipakai sebagai padanan Rupiah. Misalnya seribu perak atau seribu rupiah.

Penulisan Ma (Māsa), Ta (Tahlil) dan Wi (Wirya) dengan aksara Nagari ini kemudian bergeser dalam penggunaan aksara Jawa yang diawali dengan Jawa Kuna (Kawi).

 

Yang menarik pada penulisan aksara di koin keluaran Kesultanan Banten memiliki cakrik yang berbeda dari Jawa pada umumnya. Misalnya pada Koin Banten yang bertuliskan ꦧꦼꦂꦮꦮꦶꦗꦪ, yang dalam tulisan Latin berbunyi /Pangéran ratu/.

Koin beraksara Jawa berbunyi Pangeran Ratu. Foto: ist

Berbeda dengan cakrik pada koin lainnya, yang tertulis ꦧꦼꦂꦮꦮꦶꦗꦪ yang berbunyi /Běrwa wijaya/.

Koin beraksara berbunyi Berwarna Wijaya. Foto: ist

Penulisan aksara Jawa pada koin ini semakin jelas dikala dikeluarkan pada era Kolonial Belanda. Misalnya pada koin yang bernilai Sapara patang puluh rupiyah ꦱꦥꦫꦥꦠꦁꦥꦸꦭꦸꦃꦫꦸꦥꦶꦪꦃ atau 1/40 rupiah. Tulisannya sangat rapi dan jelas dengan font T Roorda, yang juga sekilas seperti Tuladha jejeg.

Koin keluaran pabrikan di era kolonial. Foto: ist

Menurut Epigrafer Yogyakarta, Setya Amrih Prasaja, Tuladha Jejeg mengambil sampel dari typeface Taco Roorda. Produk era kolonial Belanda ini sudah merupakan hasil pabrikan uang sehingga hasilnya terlihat rapi dan sama setiap keluaran emisinya.

Font Tuladha Jejeg, yang didigitalisasi oleh R.S. Wihananto, memang mengambil sampel bentuk huruf dari typeface (tipe huruf) logam, yang dirancang oleh Taco Roorda pada tahun 1838.

Begitulah selanjutnya untuk produk produk uang koin maupun kertas. Perkembangan ini seiring dengan teknologi cetak uang.

Teknologi cetak uang kertas dan logam (koin) pada masa penjajahan Belanda di Indonesia (Hindia Belanda) memang sudah menggunakan mesin cetak modern pada masanya, yang didatangkan langsung dari Belanda.

 

Teknik Cetak:

Pencetakan uang menggunakan teknik Engrave (Intaglio) untuk menghasilkan detail tajam dan mencegah pemalsuan. Selain itu, digunakan juga teknik cetak offset untuk latar belakang uang.

Mesin-mesin cetak ini berukuran besar, seringkali bertipe handpress atau mesin cetak mekanis abad ke-19 dan ke-20.

Pada zaman itu, uang kertas, seperti gulden De Javasche Bank (DJB), umumnya diproduksi oleh perusahaan cetak sekuriti di Belanda, seperti Joh. Enschedé.

Sementara untuk cetak uang logam (Koin), Pemerintah Hindia Belanda menggunakan Mesin Stempel (Minting Machine), yang bertekanan tinggi untuk mencetak koin tembaga, perak dan emas.

Mesin koin, yang digunakan pada abad ke-18 hingga ke-20, sudah mampu mencetak massal dengan detail monogram VOC atau lambang Kerajaan Belanda.

Produksi uang di era kolonial dengan mesin cetak, selain menggunakan aksara Latin juga masih menggunakan aksara Jawa. Ini bertujuan untuk mempermudah penerimaan dan penggunaan uang tersebut oleh masyarakat lokal Nusantara.

Evolusi uang Nusantara memang diawali dengan aksara Nagari lalu menjadi aksara Jawa dengan penggunaan aksara Latin. Ini mencerminkan sejarah panjang peradaban dan pengaruh budaya yang masuk, mulai dari masa kerajaan (aksara) hingga kolonial (Latin). (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *