Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Turunan keluarga ahli waris dari Van Vloten, yang pernah memiliki bisnis perumahan Woningbureau Van Vloten di Tretes dan berkantor pusat di gedung Apotik Simpang Surabaya, terus berharap bisa merawat kuburan buyut nya di Indonesia. Kali ini adalah ahli kubur atas nama Catharina Helena Donkersloot- Van Vloten, yang menjadi perhatian Michiel Eduard Donkersloot, yang sekarang tinggal di Den Haag, Belanda.

Berdasarkan data yang dimiliki keluarga, Michiel bercerita bahwa:

“My great grandmom died in Lawe Sigala Gala, Aceh, then most victims were reburied at Graveyard Leuwigajah, Cimahi. Now it seems that there are two graves with no names. It could be that my great grandmom is in one of those graves”, tulis Michiel Eduard berdasarkan data keluarga.
Michiel Eduard sudah lama, 5 tahun, menunggu kabar dari pihak makam di Leuwigajah, Cimahi, untuk tes DNA. Untuk meyakinkan hal itu (hubungan keluarga), pihak pengelola kuburan OGS (Oorlogsgravenstichting) akan melakukan tes DNA, tapi harus seizin otoritas pemerintah Indonesia dan atase pertahanan Belanda.


“Sekarang OGS menunggu kabar dari pihak pihak terkait untuk dikasih izin ambil DNA biar di match sama DNA aku”, demikian jelas Michiel menirukan pejabat di OGS pusat.

Berdasarkan data pencarian informasi bahwa Makam Belanda Ereveld Leuwigajah di Cimahi dikelola secara mandiri oleh pihak Belanda di bawah wewenang yayasan khusus, namun secara lahan berada di wilayah kedaulatan Indonesia.
Ereveld Leuwigajah, yang berisi lebih dari 5.200 makam korban perang (sipil dan militer) Belanda, dikelola oleh Oorlogsgravenstichting / OGS (Yayasan Makam Kehormatan Belanda) yang berkantor pusat di Den Haag, Belanda.
Pemeliharaan, dana, dan operasional sehari-hari dilakukan sepenuhnya oleh OGS Indonesia, bukan menggunakan anggaran pemerintah Indonesia.
Meskipun dikelola Belanda, tanah tersebut merupakan bagian dari wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun diberikan hak istimewa (teritorial Belanda) untuk makam kehormatan berdasarkan perjanjian kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Belanda.

Upaya komunikasi, yang dilakukan Puri Aksara Rajapatni ini, adalah bagian dalam membantu menjembatani pihak ahli waris keluarga Donkersloot di Belanda dengan pihak terkait di Indonesia.

Dalam satu tahun terakhir Michiel Eduard ke Indonesia dan berharap mendapat kabar dari upayanya mencari kuburan leluhurnya, tapi belum mendapat kabar baiknya.
“Saya sudah 3 kali ke Leuwigajah. Ini baru saja pulang lagi dari Indonesia”, tegasnya ke Rajapatni.
Michiel menambahkan bahwa upaya identifikasi makam seperti yang diharapkan harus melalui prosedur otoritas terkait. Begitu jelas Michiel menirukan pihak pejabat OGS.
“Informasi yang saya terima bahwa sekarang OGS menunggu pihak pihak terkait di Indonesia untuk beri ijin ambil DNA”, jelas Michiel. Pihak terkait diantaranya adalah Atase Pertahanan Belanda.
Jika melihat keterangan yang didapat Puri Aksara Rajapatni bahwa Ereveld Leuwigajah di Cimahi dikelola secara mandiri oleh pihak Belanda di bawah wewenang yayasan khusus, yaitu Oorlogsgravenstichting (OGS).
Otoritas militer dan pemerintah Indonesia memang terlibat dalam mendukung pengelolaan Oorlogsgravenstichting (OGS) Indonesia, termasuk di Ereveld Leuwigajah, melalui kolaborasi diplomatik dan keamanan, meskipun perawatan fisik harian dilakukan secara mandiri oleh OGS. Demikian hasil dari pencarian data yang diperoleh media ini. (PAR/nng).
