Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Berkunjung ke Pusat Informasi Majapahit (PIM), yang umum disebut Museum Trowulan, ada salah satu artefak yang berupa benda celengan. Celengan adalah wadah atau tabung yang bisa terbuat dari tanah liat, plastik atau logam, yang digunakan untuk menyimpan (menabung) uang koin maupun kertas. Alat ini difungsikan untuk melatih hidup hemat, disiplin menabung, dan kemandirian finansial sejak dini. Secara tradisional, celengan sering berbentuk babi (celeng dalam bahasa Jawa) atau hewan lainnya.
Celengan kuno di Museum Trowulan (Pusat Informasi Majapahit), Mojokerto ini merupakan bukti peradaban ekonomi Majapahit abad ke-13 hingga 15 Masehi.
Artefak terakota berbentuk hewan babi hutan ini sering ditemukan dalam keadaan pecah di situs Trowulan. Menurut data yang bisa dihimpun dari museum bahwa Celengan ini awalnya digunakan untuk menyimpan uang kepingan Cina (kepeng).

Celengan dari era Majapahit ini terbuat dari tanah liat (terakota) yang dibakar. Bentuk yang paling ikonik adalah celeng (babi hutan), yang disinyalir menjadi asal-usul istilah “celengan”. Ada juga bentuk lainnya misalnya ayam dan manusia.
Salah satu koleksi terkenal adalah celengan, yang wajahnya menyerupai sosok manusia, yang pernah diinterpretasikan oleh Profesor Yamin sebagai wajah Gajah Mada.
Pada zaman Majapahit, celengan digunakan oleh pejabat atau petugas, yang melindungi pasar untuk menyimpan setoran uang kepeng Cina.
Koleksi ini menegaskan bahwa tradisi menabung sudah lazim dilakukan oleh masyarakat pada masa kerajaan Majapahit.
Gerakan Menabung
Dimasa kini dan mendatang menabung adalah penting sampai kemudian ada gerakan menabung.
Gerakan Gemar Menabung adalah upaya membudayakan perilaku menyisihkan uang sejak dini untuk masa depan, melatih disiplin, dan hemat. Ini penting untuk anak-anak guna memahami pengelolaan uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memupuk kemandirian finansial.
Cara Membiasakan Menabung (Gerakan Gemar Menabung) bisa dimulai dari Nominal Kecil. Menabung tidak harus besar, yang penting konsisten, seperti menyisihkan sebagian uang jajan.
Penggunaan Celengan atau bank (era kekinian). Menggunakan celengan atau membuka rekening bank adalah cara pembiasaan menabung. Apalagi ada program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).
Pentingnya Gerakan Gemar Menabung adalah melatih kedisiplinan, kesabaran, dan pola hidup hemat; Mempersiapkan dana darurat dan masa depan; Mengajarkan cara mengelola uang, membedakan keinginan dan kebutuhan, serta prioritas.
Di museum Trowulan atau Pusat Informasi Majapahit (PIM) disebutkan tentang fungsi dan kegunaan celengan ini. Pada zaman kerajaan Majapahit itu, para pejabat kerajaan yang bertugas melindungi pasar setiap hari menerima uang setoran delapan keping uang tunai kepeng Cina (mata uang resmi di Majapahit sejak abad ke-13). Agar uang tak lenyap, mereka menyimpannya di celengan itu.
Diyakini uang kepeng dari Cina itulah yang oleh masyarakat kebanyakan “diceleng-kan” ke celengan berbentuk babi.
Kata celengan sebenarnya berasal dari bahasa Jawa Celeng, yang merujuk pada babi hutan atau dalam bahasa Inggris disebut “Pig”. Penggunaan Pig ini sudah digunakan sejak sekitar abad ke-18 dan masih terdengar sampai sekarang. (PAR/nng)
