Surabaya, Jawa Timur Menjaring Benih Untuk Memasang Tonggak Kesatuan Dan Persatuan.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara Jawa Jangan dipandang sepele atau sebelah mata. Tapi harus dipandang dengan mata melotot dan terbelalak.

Aksara Jawa ini berbeda dengan aksara lainnya seperti latin. Mengapa?

Aksara Jawa memang bukan sekadar alat tulis biasa, melainkan sebuah karya seni, filosofi hidup, dan identitas budaya yang sangat kompleks. Berbeda dengan aksara Latin yang bersifat alfabetis tunggal, Aksara Jawa memiliki karakteristik unik yang membuatnya harus dipandang dengan “mata melotot” atau penuh kekaguman.

Surabaya Wani. Foto: par

Berikut adalah alasan mengapa Aksara Jawa berbeda dan jauh lebih istimewa dibandingkan aksara Latin:

• Sistem Abugida (Suku Kata): Aksara Latin menggunakan sistem alfabet (setiap huruf mewakili satu suara konsonan atau vokal, seperti a, b, c). Sementara itu, Aksara Jawa menggunakan sistem Abugida. Artinya, satu huruf dasar (Nglegena) sudah mengandung bunyi vokal bawaan “/a/” (contoh: ꦗ dibaca “ja”, ꦔ dibaca “nga”).

• Memiliki Filosofi Hidup Luhur: 20 susunan huruf dalam Aksara Jawa (Ha-Na-Ca-Ra-Ka sampai Ma-Ga-Ba-Tha-Nga) bukan urutan acak. Susunan ini membentuk sebuah puisi filosofis tentang kisah dua utusan yang setia, bertarung karena kesalahpahaman, dan keduanya gugur bersama. Ini adalah refleksi mendalam tentang kesetiaan, takdir, dan keseimbangan hidup manusia.

• Tingkatan Struktur yang Rumit: Aksara Jawa memiliki arsitektur penulisan yang berlapis. Selain huruf utama, terdapat Pasangan (untuk mematikan vokal di tengah kata), Sandhangan (vokal pengubah seperti wulu, taling, suku), serta Aksara Murda, Swara, dan Rekan untuk keperluan khusus seperti nama kehormatan atau kata serapan.

• Estetika dan Seni Kaligrafi: Bentuk Aksara Jawa sangat dinamis dengan lengkungan yang indah (nggelung). Menulis Aksara Jawa membutuhkan rasa seni dan ketelatenan yang tinggi, mirip dengan seni kaligrafi.

Dengan mengikuti lomba menulis aksara Jawa untuk bulan bahasa, sastra dan sumpah pemuda 2026, seluruh pihak terkait turut melestarikan nilai nilai luhur bangsa Indonesia.

Mengikuti lomba menulis aksara Jawa dalam rangka menyambut Bulan Bahasa, Sastra, dan Sumpah Pemuda 2026 merupakan wujud nyata dalam melestarikan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Aksara Jawa bukan sekadar media tulis, melainkan simbol identitas, filosofi hidup, dan kekayaan intelektual nusantara yang harus dijaga oleh generasi muda agar tidak punah di era digital. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *