Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Adalah kegembiraan mendengar dan melihat salah satu rencana dari pokok bahasan dalam Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 adalah tentang Aksara dan Bahasa yang dibahas dalam satu rumpun.
Konseptor Kongres menyadari akan posisi masing masing Objek, yang secara kultural adalah dua objek, yang berbeda namun saling terkait.
Sama halnya ketika mengikuti Kongres Bahasa Jawa ke VII di Surakarta tahun 2023 lalu. Dinyatakan dalam Kongres itu bahwa ada sudah ada Objek Bahasa, Sastra dan Aksara.
Kongres Masing Masing
Faktanya adalah Aksara memiliki Kongres yang berbeda dari Kongres Bahasa. BUKANnya Kongres Aksara yang menjadi bagian dari Kongres Bahasa. Masing masing Objek Kebudayaan itu (Aksara dan Bahasa) menyelenggarakan Kongresnya masing masing.
Perlu disadari sesadar sadarnya bahwa Kongres Aksara dan Kongres Bahasa adalah dua pertemuan yang berbeda karena fokus utama pembahasannya tidak sama: kongres aksara membahas sistem tulisan, tata letak papan tik, dan digitalisasi huruf, sedangkan kongres bahasa membahas aturan kata, ejaan, dan perkembangan fungsi bahasa.
Ketika insan Kebudayaan Indonesia menyelenggarakan Kongresnya dengan meletakkan pembahasan pada masing masing Objek Bahasa dan Aksara secara tegas dan eksplisit, ini menunjukkan betapa sebuah pemikiran yang berjiwa Nusantara: kesadaran atas keberagaman. Tidak memasukkan satu objek ke dalam objek lainnya. Tidak menganggap Aksara bagian dari Bahasa atau sebaliknya Bahasa dalam aksara.
Perdebatan Raperda
Pasalnya sempat terjadi perdebatan atas anggapan dalam proses pembahasan Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta kepahlawanan Surabaya bahwa Aksara dianggap sebagai bagian dari Bahasa.
Kongres Kebudayaan Pertama 1918

Sekarang insan kebudayaan menuju ke sebuah Kongres Kebudayaan Nusantara sebagai tindak lanjut dari Kongres Kebudayaan pertama, yang bernama Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling (Kongres tentang Pengembangan Kebudayaan Jawa) pada tahun 1918.
Sebagai flashback pengetahuan, perlu dipahami bahwa Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling (Kongres Pengembangan Kebudayaan Jawa) pada tahun 1918 membahas cara membangun kembali peradaban tinggi masyarakat Jawa, peran peradaban dan pendidikan Barat, serta rencana pendirian lembaga kebudayaan.
Dalam perjalanan waktu, kongres ini pada akhirnya melahirkan Java Instituut, sebuah lembaga kebudayaan era kolonial, yang didirikan pada tahun 1919. Lembaga ini aktif memajukan kebudayaan Jawa, Sunda, Madura, dan Bali. Pada tahun 1935 Java Instituut memprakarsai berdirinya Museum Sonobudoyo di Yogyakarta.
Sementara hasil penerbitannya seperti Poesaka Djawi, Djawa, Poesaka Sunda dan Poesaka Madhoera juga menggunakan aksara Jawa sebagai identitas Jawa dan bangsa selain aksara Latin dalam teksnya.
Penggunaan Aksara Jawa
Poesaka Djawi: Diterbitkan oleh Java-Instituut sejak 1922 hingga 1941, majalah ini secara khusus ditulis menggunakan bahasa dan aksara Jawa.
Poesaka Sunda dan Poesaka Madhoera: Menggunakan bahasa serta aksara daerah masing-masing (aksara Sunda/Latin dan aksara Carakan Madura) untuk menjaga identitas lokal.
Kongres Kebudayaan Nusantara 2026
Kini melalui Kongres Kebudayaan Nusantara 2026, dengan adanya bahasan Aksara dan Bahasa, Kongress ini sekaligus melanjutkan upaya perlindungan Kebudayaan Jawa di tengah modernisasi. (PAR/nng)..
