Miss Chinese Indonesia Akan Meriahkan Lomba Menulis Aksara Jawa.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dalam sebuah peringatan Hari Aksara Internasional di Wisma Jerman Surabaya 2024, ada hadirin yang datang dari kelompok Miss Chinese Indonesia. Miss Chinese Indonesia adalah ajang pemilihan kecantikan yang menonjolkan bakat, kepribadian, dan kecerdasan perempuan keturunan Tionghoa di Indonesia.

Salah satu keterampilan yang ditunjukkan pada acara peringatan Hari Aksara Internasional di Wisma Jerman Surabaya saat itu adalah keterampilan mereka dalam menulis aksara Jawa.

Mewakili lintas negara dalam satu aksi menulis aksara Jawa.Foto: par

Memang pada saat itu ada unjuk keterampilan menulis aksara Jawa pada media kipas kertas lintas negara. Selain ada komunitas peranakan China, juga ada peserta Jepang. Bahkan di kesempatan yang lain ada peserta dari Amerika.

Ekspatriat Amerika dalam aksi menulisaksara Jawa. Foto: par

Ketika aksara Nusantara (Jawa) diapresiasi oleh bangsa lain, maka sebagai pemilik budaya tulis tidak boleh ketinggalan. Aksara Jawa (Carakan) adalah salah satu warisan luhur yang tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam dan sejarah peradaban yang kaya.

Ketika masyarakat internasional mulai mempelajari, meneliti, dan mengaguminya, sudah sepatutnya kita sebagai pemilik budaya berada di garda terdepan untuk melestarikan dan menghidupkannya kembali.

Dalam agenda Lomba Menulis Aksara Jawa dalam peringatan bulan bahasa dan sastra serta Sumpah Pemuda, akan hadir beberapa anggota alumni dari Miss Chinese Indonesia untuk ikut serta dalam lomba.

Aksara Jawa dan Jepang dalam bingkai kipas tradisional. Foto: par

Kehadiran alumni Miss Chinese Indonesia dalam Lomba Menulis Aksara Jawa nanti mencerminkan adanya simbol kuat dari asimilasi budaya, inklusivitas, dan implementasi nyata nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam kehidupan modern.

Sumpah Pemuda memang mengikrarkan “tumpah darah yang satu”, “bangsa yang satu”, dan “bahasa persatuan”. Keikutsertaan warga keturunan Tionghoa dalam melestarikan Aksara Jawa menunjukkan bahwa kebudayaan daerah bukan hanya milik satu suku saja, melainkan warisan bersama bangsa Indonesia yang wajib dijaga oleh seluruh elemen warga negara tanpa memandang latar belakang etnis.

Selain itu kehadiran mereka juga menegaskan bahwa identitas kemudaan dan keindonesiaan melampaui sekat-sekat suku. Ketika alumni kontes kecantikan berbasis budaya Tionghoa ikut menulis Aksara Jawa, hal ini menjadi bukti indah bagaimana dua budaya bisa saling menghormati, berbaur, dan hidup berdampingan secara harmonis (multikulturalisme).

Menurut Nita Kartika, Mentor Miss Chinese Indonesia, bahwa setidaknya ada 5 orang Miss Chinese Indonesia akan terlibat dalam peringatan Bulan Bahasa dan Sastra.

“Saya pastikan 5 orang ya”, kata Nita melalui pesan WhatsApp.

Hal ini tentu membawa pengaruh positif (influencer effect) terhadap pelestarian budaya. Kehadiran figur publik atau tokoh kontes kecantikan dapat membuat anak muda lainnya melihat bahwa mempelajari Aksara Jawa adalah hal yang keren, relevan, dan bergengsi, bukan sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman.

 

Miss Chinese Indonesia sedang menis aksara Jawa. Foto: par

Apalagi, peringatan Bulan Bahasa dan Sastra ini menjadi momentum bahwa mencintai bahasa Indonesia dan bahasa daerah adalah tugas kolektif. Ini membuktikan bahwa sekat-sekat masa lalu telah melebur menjadi satu semangat: bangga terhadap kekayaan bahasa Nusantara.

Semangat ini mengingatkan Trigatra Bangun Bahasa. Yaitu tiga Pilar Trigatra Bangun Bahasa.

Utamakan Bahasa Indonesia: Menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar dalam komunikasi formal, kedinasan, serta ruang publik sebagai lambang persatuan nasional.

Lestarikan Bahasa Daerah: Merawat, menggunakan, dan mempertahankan bahasa ibu atau bahasa lokal sebagai identitas serta kekayaan budaya suku bangsa di Nusantara.

Kuasai Bahasa Asing: Mempelajari bahasa internasional guna memperluas wawasan, ilmu pengetahuan, teknologi, serta meningkatkan daya saing global.

Lomba menulis aksara Jawa yang disertai dengan ikrar Budaya dan sarasehan budaya dengan tema “Aksara Jawa Goes Digital” adalah wadahnya. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *