Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA : Diksi “menguntai”umumnya untuk menyatukan sesuatu yang terpisah atau tercerai berai.
Memang, kata “menguntai” ini secara harfiah berarti merangkai benda-benda yang terpisah (seperti manik-manik, bunga, atau mutiara) dengan menggunakan tali atau benang agar menjadi satu kesatuan yang utuh dan indah.
Tali atau benang itu adalah sabuk persatuan. Sabuk dalam tulisan ini adalah aksara Jawa yang menjadi sarana untuk mempersatukan perbedaan: usia, latar belakang dan jenis kelamin dalam satu kekuatan bersama yang disebut semangat.

Aksara Jawa bukan sekadar lambang bunyi atau alat komunikasi visual, melainkan sebuah medium kultural yang mampu melintasi berbagai sekat sosial.
Dalam satu lomba menulis aksara Jawa, perbedaan sosial itu bisa bersatu dalam harmoni asah, asih dan asuh. Lomba ini berfungsi sebagai ruang edukatif yang menyatukan berbagai kalangan melalui prinsip asah, asih, dan asuh.
Konsep tradisional Jawa ini mengubah sifat kompetisi yang biasanya kaku menjadi ajang silaturahmi dan pelestarian budaya yang inklusif.
Dalam rangkaian lomba ini (dalam memperingati Bulan Bahasa, Sastra dan Sumpah Pemuda 2026) juga dihadirkan Ikrar/Sumpah Budaya dan Sarasehan Budaya dengan tema “Aksara Jawa Goes Digital”.
Aksara Jawa adalah tradisi yang bertemu Modernisasi (Digital).
Tema “Aksara Jawa Goes Digital” dalam rangkaian peringatan Bulan Bahasa, Sastra dan Sumpah Pemuda 2026 merupakan langkah nyata menjembatani tradisi masa lalu dengan teknologi modern agar aksara nusantara tetap relevan di era digital. (PAR/nng)
