Menajamkan Tulisan Aksara Pada Prasasti Canggu 

Budaya, aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Menajamkan fisik tulisan aksara, dari sudut clarity, (agar tampak jernih dan tegas guratannya serta mudah dibaca) sebagaimana tertulis pada prasasti Canggu, tidak mudah. Apalagi menjelaskan isi (makna) tulisan aksaranya ketika masyarakat sekarang sudah buta aksara karena keterputusan aksara (budaya daerah) dengan masyarakat nya.

Ada tingkat kesulitan tersendiri memang karena faktor budaya ini. Belum ada keberlanjutan secara tegas dalam pelestarian aksara sebagai identitas bangsa Indonesia. Di Surabaya tengah ada upaya memasukkan aksara sebagai objek pemajuan Kebudayaan dalam Raperda, meski banyak tantangannya.

Memasukkan aksara daerah ke dalam raperda ini bagaikan memasukkan aksara asing, yang tidak sama dengan aksara daerah. Ada tingkat kesulitan. Haral lintangnya bervariasi, diantaranya justru dari para intelektual, yang berbaju budaya jawa dengan berbagai argumen ilmiahnya. Malah aksara asing, yang merajalela di rumah sendiri (Surabaya). Aneh dan ironis. Maka melalui alat hukum Perdalah keberkelanjutan dan pelestarian serta pemajuan aksara dapat dijamin.

Tulisan Śūrabhaya terukir pada prasasti Canggu. Foto,: par

Padahal sejarah Surabaya sendiri terukir pada prasasti, yang bertuliskan aksara. Yaitu Aksara Jawa Kuno (Kawi) yang terdapat pada prasasti Canggu (1358 M).

Prasasti Canggu, yang juga dikenal sebagai Prasasti Trowulan I, dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk pada 7 Juli 1358 M) adalah satu-satunya sumber sejarah tertulis tertua dan otentik yang mencatat nama Surabaya secara langsung. Dalam prasasti yang memuat aturan wilayah naditira pradeca (desa penyeberangan di sepanjang Sungai Brantas dan Bengawan Solo) ini, nama Surabaya tertulis sebagai Śūrabhaya atau Çūrabhaya dalam aksara Jawa Kuno (Kawi).

Mengingat pentingnya prasasti Canggu sebagai data sejarah otentik bagi Surabaya berbagai upaya mandiri dilakukan oleh komunitas budaya Surabaya yang membidangi Aksara Jawa. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak ada jalan. Modalnya adalah sifat berani yang berdasar pada kebaikan untuk umum, bukan pribadi dan golongan.

Sisi lain dari lempeng prasasti. Foto : par

Dari data yang didapat komunitas tersebut, secara fisik dalam bentuk foto, tulisan aksaranya terlihat jelas

Tetapi ketika dibuat dalam bentuk foto negatif, terlihat spot spot hitam yang mengganggu guratan tulisan. Dari beberapa tempat yang biasa mengolah foto mengatakan sulit untuk mengatasinya. Namun komunitas ini tidak menyerah bagai pion catur, yang sekali melangkah pantang mundur.

Satu sisi lempeng dengan tulisan lengkap
Foto: par

Atas kegigihan itu akhirnya dapatlah dibuat foto dengan kejelasan tulisan. Kejelasan tulisan (clarity) berarti pembaca dapat memahami anatomy goresan, yang menyimpan pesan dan pembaca akhirnya dengan mudah dan tepat tanpa kebingungan, ambiguitas, atau kesulitan membaca untuk menafsirkan kata-kata. Ini adalah elemen krusial, clarity.

Prasasti ini secara spesifik mencatat puluhan desa penyeberangan di sepanjang Sungai Brantas dan Bengawan Solo, yang salah satunya adalah Naditira Pradesa Śūrabhaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *