Budaya, sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ada yang menarik dari data (inskripsi) yang tertulis pada gawel Gereja GKJW ini. Yakni tertulis:

ꦒꦿꦺꦗꦏꦿꦶꦱ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦗꦮꦶꦮꦼꦠꦤ꧀
“꧇꧑꧙꧑꧘꧇”
ꦦꦱꦩꦸꦮꦤ꧀ꦯꦸꦫꦧꦪ
“Gréjå Kristěn Jawi Wètan”
“1918”
“Pasamuan Suråbåyå”
Ada penulisan Pasamuan Surabaya, Istilah “Pasamuan Surabaya” merujuk pada Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) atau Majelis Daerah Surabaya (MD), di mana wilayah pelayanannya mencakup area di luar Kota Surabaya secara administratif.
Di era Hindia Belanda, gereja-gereja di wilayah Jombang memang dikelola di bawah naungan Indische Kerk (Gereja Protestan Hindia Belanda) yang bersifat sentralistik. Secara administratif, koordinasi jemaat di daerah ini bernaung langsung di bawah Klasis (Majelis Daerah) Surabaya, sebelum akhirnya gereja-gereja bumiputera membentuk sinodenya sendiri.
Terdapat dua kelompok besar gereja yang memiliki akar sejarah kuat di Jombang pada masa kolonial. Yakni Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno yang berpusat di wilayah pedesaan seperti Mojowarno. Gereja ini adalah hasil penginjilan pekabaran Injil NZG (Nederlandsche Zendingsgenootschap) Belanda. Sejarah awal pergerakannya ditangani oleh Majelis Agung yang mempersatukan raad pasamuwan alit (majelis jemaat) di Jawa Timur.
Juga ada Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) pada masa kolonial. Gereja ini merupakan bagian dari Indische Kerk yang melayani pegawai pemerintah, militer, dan masyarakat Eropa. Koordinasinya dikelola melalui Klasis Jawa Timur yang berpusat di Surabaya
.
GKJW
Sementara sistem Klasifikasi Wilayah Gereja GKJW menata wilayah pelayanannya berdasarkan pembagian Majelis Daerah (MD). Terdapat beberapa Majelis Daerah seperti MD Surabaya Barat-Jombang atau MD Surabaya Timur.
Gereja-gereja di wilayah Jombang, kala itu di era pemerintahan Hindia Belanda, secara historis dan administratif klasifikasi gerejawinya masuk dalam naungan koordinasi gereja induk yang dikelola oleh Majelis Daerah tersebut.
Makna Kata Pasamuan:
Dalam bahasa Jawa, pasamuan berarti “jemaat” atau “persekutuan umat”. Secara struktural, penulisan nama ini menegaskan identitas persekutuan jemaat di bawah naungan klasis wilayah tertentu (misalnya area yang dulunya terintegrasi pelayanannya dari Surabaya), bukan sekadar penunjuk jalan atau kelurahan administratif.

Jika Anda berkunjung ke Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Mojowarno Jombang, maka Anda akan menjumpai sosok bangunan gereja tua ini dengan gaya Indische yang pada bagian terasnya ditopang oleh kolom kolom silinder.
Gereja GKJW Mojowarno di Jombang ini mulai dibangun pada tahun 1879, yang ditandai dengan peletakan batu pertama pada 24 Februari 1879 dan diresmikan penggunaannya pada 3 Maret 1881.

Bangunan cagar budaya ini merupakan salah satu gereja Kristen tertua di Jawa Timur. Yang unik dan menarik dari gereja GKJW ini adalah digunakannya penulisan aksara Jawa.
Akulturasi Budaya
Sebagai salah satu gereja tertua di Jawa Timur (dibangun antara 1879–1881), GKJW Mojowarno di Jombang sangat ikonik dengan akulturasi budaya agraris Jawa dan kekristenan yang harmonis.
Perpaduan tradisi ini terlihat sangat jelas melalui berbagai aspek misalnya Tradisi Riyaya Undhuh-Undhuh. Pesta panen tahunan masyarakat agraris yang dirayakan dengan mengarak hasil bumi, diiringi gamelan, dan jemaat yang mengenakan pakaian adat Jawa.

Lalu juga ada Ibadah Budaya. Yaitu penggunaan bahasa Jawa dalam ibadah dan penulisan aksara Jawa pada gedung gereja serta iringan musik tradisional seperti gamelan dan kidung-kidung bernuansa lokal adalah gambaran ibadah budaya.

Juga dalam gaya Arsitektur, yang menggabungkan sistem tata gereja Barat yang diperkenalkan misionaris dengan ornamen serta sentuhan estetika khas Jawa.
Selain di Jombang, Geraja GKJW di jalan Prof dr Moestopo Surabaya juga menggunakan tulisan aksara Jawa. (PAR/nng)
