Budaya, aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ada metode Calistung. Calistung adalah singkatan dari membaca, menulis, dan berhitung, yaitu tiga kemampuan dasar akademik yang diajarkan kepada anak usia dini. Kemampuan ini menjadi pondasi penting bagi anak sebelum memasuki bangku sekolah dasar.
Metode ini sengaja mendahulukan membaca karena membaca merupakan kunci utama untuk memahami simbol, instruksi, dan konsep dasar bahasa sebelum anak beralih ke tahap pembelajaran berikutnya.
Termasuk membaca Aksara Jawa. Dari membaca inilah peserta didik bisa mengubah lambang tulisan menjadi suara dan paham arti teks termasuk menguasai keterampilan berbahasa (daerah).
Keterampilan membaca harus disertai dengan keterampilan menulis agar peserta didik bisa membuat bentuk huruf atau pasangan aksara dengan benar dan rapi.
Akhirnya, mereka dapat pula turut menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Dari paham membaca, khususnya aksara Jawa, mereka dapat mengucap (berbahasa) dengan artikulatif.
Hubungan Membaca dan Artikulasi

Aksara Dasar (Nglegena):
Setiap huruf dasar memiliki kejelasan bunyi vokal /a/ atau /ɔ/, yang membentuk pengucapan konsonan secara tegas, termasuk bagaimana bunyi (pengucapan) konsonan itu sendiri, bahwa bunyi /s/ dan /sh/ serta /sy/ berbeda.

Pengucapan yang benar adalah artikulatif. Artinya bahwa pengucapan yang benar merujuk pada artikulasi, yaitu kejelasan dalam melafalkan bunyi huruf, suku kata, dan kata. Kata “artikulatif” sendiri merupakan bentuk kata sifat yang berarti bersifat artikulasi atau berkenaan dengan artikulasi.
Karenanya Aksara menentukan bunyi atau pengucapan (pronunciation). Aksara adalah lambang bunyi, yang membentuk sistem penulisan untuk menentukan pengucapan suatu bahasa. Aksara menuntun pengucapan yang benar.
Aksara atau huruf memang berfungsi menuntun pengucapan yang benar melalui kejelasan lambang bunyi, tempat keluar suara, dan tanda baca.
Karenanya, Aksara menjadi landasan penting dalam berbahasa yang baik dan benar karena aksara menjadi wujud visual dari bunyi bahasa. Penguasaan aksara yang tepat memastikan ketepatan ejaan, struktur kata, serta makna pesan yang disampaikan agar mudah dipahami dan sesuai kaidah. (PAR/nng).
