Luas Persil Mawar 10 Surabaya Hanya Setitik Dari Luas Surabaya 326,81 km².

Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Yousri Raja Agam, jurnalis senior Surabaya. Ia bercerita singkat tentang pengalamannya saat bertemu dengan walikota Surabaya pada kisaran dekade 80 an bahwa sang walikota saat itu mengatakan kepada Yusri Raja Agam: “kamu bukan orang Jawa tapi Njawani” Sepenggal kalimat itu terus teringiang sehingga menjadikannya Yusri bersifat Surabaya.

Bersifat Surabaya adalah memiliki karakter, mentalitas, dan nilai-nilai khas masyarakat Kota Surabaya (sering disebut Arek Suroboyo). Karakter ini identik dengan: Wani, Terbuka & Lugas, Solidaritas Kuat dan Egaliter.

Cerminan sifat sifat diatas itu tentu saja mewarnai kapasitas dan kiprahnya sebagai wartawan. Ya, Yusri memang lugas dalam memberitakan termasuk dalam menulis buku buku tentang Surabaya.

Suatu hari Yurri pernah bercerita dengan tegas dan lugas tentang penentuan hari jadi kota Surabaya pada dekade 1970-an ketika ia berkesempatan meliput proses penentuan Hari Jadi Kota Surabaya yang baru sebagai pengganti Hari Jadi Kota Surabaya yang diperingati pada masa kolonial, yaitu 1 April 1906.

Menurutnya penentuan hari yang tertanggal 31 Mei 1293 adalah lebih ke pertimbangan teknis pelaksanaan, bukan lah ke pertimbangan historis. Bukannya tidak ada sejarah dan peristiwa yang terjadi pada 31 Mei 1293. Tanggal itu adalah tanggal pengusiran serdadu Mongol dari Jawa oleh Raden Wijaya.

Tanggal 31 Mei 1293 adalah salah satu dari empat alternatif penanggalan yang digodok oleh tim pencari hari jadi kota Surabaya untuk menggantikan tanggal hari jadi sebelumnya yang berbau Belanda (1 April 1906). Satu alternatif lainnya adalah 7 Juli 1358 berdasarkan Prasasti Canggu yang adanya adalah otentik.

Dipilih 31 Mei 1293 lebih bersifat teknis pelaksanaan dari pada pertimbangan Historis”, itulah pernyataan Yusri yang lugas dan tegas.

Buku Kontroversial..Foto: ist

Karenanya catatan dokumentasi hari jadi kota Surabaya yang dibukukan menjadi buku “Hari Jadi Kota Surabaya, 682 Tahun Śūra ing Baya” yang sedianya akan dirilis kala itu (1975) gagal dirilis karena kontroversi.

Suparto Brata: “Gak jadi terbit karena kontroversial”.

Suparto Brata (almarhum) di masa hidupnya sempat menjadi nara sumber sebuah stasiun televisi lokal Surabaya (JTV) dan dalam wawancara sempat mengatakan bahwa buku “Hari Jadi Kota Surabaya, 682 Tahun Śūra ing Baya” gagal terbit karena kontroversi isi.

Pernyataan (alm) Suparto Brata itu relevan dengan pernyataan Yousri Raja Agam sebagai jurnalis yang meliput proses penetapan Hari Jadi Kota Surabaya pada 1975.

Yousri Raja Agam (HM Yousri Nur Raja Agam) lahir pada tahun 1950. Ia lahir di Bengkalis, Riau, pada tanggal 20 Oktober 1950. Jadi ketika meliput proses penetapan Hari Jadi Kota Surabaya pada 1975, usianya sudah 25 tahun.

Yousri Raja Agam menyampaikan gagasannya dalam forum diskusi bedah buku Jejak Perjuangan Bung Tomo di RRI Surabaya . Foto : nng

Dalam peluncuran buku Jejak Perjuangan Bung Tomo di RRI Surabaya pada Minggu (31/5/26), ia pun mengusulkan kepada forum untuk menindaklanjuti dari esensi peluncuran buku ini. Yaitu menjaga memori kolektif bangsa yang tertoreh di Surabaya, khususnya terkait dengan Studio/Rumah Radio Bung Tomo di jalan Mawar 10 Surabaya. Caranya dengan membuat tetenger sejarah di lokasi Rumah Radio Bung Tomo jika mempertahankan situs itu tidak bisa dilakukan.

Suasana perang Surabaya 1945. Foto: ist

Arek arek Surabaya di tahun 1945 berani menjaga Surabaya dan bangsa dari upaya pendudukan oleh Sekutu yang diboncengi tentara Belanda, kini arek arek Surabaya ditantang dengan menjaga situs perjuangan Bung Tomo di persil jalan Mawar 10 Surabaya.

Persil di Mawar 10 Surabaya hanya sebagian kecil dari wilayah Surabaya yang secara administratif luasnya sekitar 326,81 km².

Di titik situs Mawar 10 Surabaya itulah digagas dibuatnya tetenger jejak perjuangan Bung Tomo. (PAR/nng).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *