Budaya, Literasi
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Satu paket peluncuran nilai keberanian dalam kemasan bedah buku “Jejak Perjuangan Bung Tomo” dan Radio karya SMKN 12 Surabaya “Radio Bung Tomo” berlangsung di Auditorium RRI Surabaya pada Minggu, 31 Mei 2026. Peluncuran ini dihadiri oleh lapisan entitas seperti perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, DHD 45 Surabaya, Perkumpulan Putra Putri Pejuang Surabaya, jurnalis, Komunitas sejarah, Kolektor buku kuno Gresik, Dewan Kebudayaan Surabaya dan umum.

Tampil sebagai narasumber adalah Nanang Purwono sebagai penulis dari Puri Aksara Rajaptni, Heroe Budiarto dari Dewan Kebudayaan Surabaya serta putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, yang langsung datang pagi itu dari Jakarta. Acara ini dipandu oleh Moderator Kuncarsono Prasetyo.
Bedah buku dan peluncuran radio merek Radio Bung Tomo (RBT) ini terkait dengan Hari Jadi Kota Surabaya, yang jatuh pada 31 Mei 2026. Menurut penulis buku Nanang Purwono ketiga hal (Bung Tomo, Buku dan Śūrabhaya) memiliki hubungan erat satu sama lain.
“Bung Tomo itu simbol keberanian arek Surabaya di kala perang untuk mempertahankan kemerdekaan 1945, Buku “Jejak Perjuangan Bung Tomo” juga merupakan ekspresi keberanian jurnalisme akan fakta tentang pembongkaran Rumah Radio Bung Tomo dan Śūrabhaya yang bermakna tentang Keberanian”, jelas Nanang dalam mengawali Talkshow itu.
Dimata Bambang Sulistomo (putra Bung Tomo) bahwa Bung Tomo bisa bertindak berani karena membela kebenaran dan ketidakadilan utamanya yang menimpa rakyat miskin.
“Bapak itu betul-betul bergelut dan cinta dengan orang miskin. Jika ada kemiskinan yang dihina, beliau pasti akan merasa sangat tersinggung,” ujar Bambang mengenang prinsip hidup sang ayah.
Baginya (red. Bung Tomo) berbicara mengenai kemiskinan pada hakikatnya adalah berbicara tentang kedaulatan rakyat. Bambang juga menegaskan bahwa cita-cita kemerdekaan, yang diperjuangkan Bung Tomo, adalah mewujudkan negara yang berdaulat, agar tidak ada lagi rakyat yang hidup dalam jerat kemiskinan.
Sementara itu Heroe Budiarto dari Dewan Kebudayaan Surabaya bidang penelitian memandang bahwa perjuangan yang perlu diwarisi adalah bagaimana estafet pembangunan ini berfokus pada kemanusiaan dan kerakyatan yang berbasis Kebudayaan.
Hal ini untuk memastikan adanya kebijakan yang bersifat inklusif, mengurangi ketimpangan sosial, dan menjaga pembangunan tetap menghargai martabat serta kebutuhan dasar setiap individu.
Sebelumnya hal senada juga disampaikan oleh Bambang Sulistomo bahwa perjuangan Bung Tomo pada hakekatnya adalah membantu rakyat agar bisa berdaulat. Diantaranya adalah rakyat tidak boleh terbelenggu kemiskinan. Maka diperlukan pemerataan akses terhadap sumber daya, pendidikan, dan kesehatan.
Akses menurut Nanang Purwono telah dicontohkan oleh tokoh, yang tersebut dalam prasasti Canggu. Yaitu peran Panji Margabhaya, yang bekerja sebagai juru tambang (penyeberangan sungai), yang perannya membantu menyeberangkan masyarakat Naditira Pradesa Śūrabhaya untuk tujuan tujuan keagamaan, kebudayaan, kesejahteraan (ekonomi) dan sosial.

Peran Panji Margabhaya ini mengandung nilai nilai sebagaimana dilakukan oleh rakyat Surabaya sekarang agar bisa menjadi pahlawan pahlawan ekonomi, pendidikan, keluarga dan lainnya.

Diantara beberapa pertanyaan dan pernyataan dari para hadirin, ada satu gagasan yang dilontarkan oleh wartawan senior Yusri Raja Agam agar jejak perjuangan Bung Tomo di Mawar 10 -12 Surabaya tidak hilang, maka diperlukan juga tetenger di lokasi tersebut sebagai kelanjutan (follow up) dari upaya penulisan buku dan pembuatan Radio Bung Tomo yang diluncurkan di RRI Surabaya pada Minggu, 31 Mei 2016.

Gagasan itu disambut baik oleh segenap hadirin termasuk oleh Bambang Sulistomo. Di penghujung acara, Nanang Purwono menyerahkan Radio Bung Tomo kepada pihak Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya untuk melengkapi museum RRI Surabaya.
“Nantinya, insya Allah, harapannya radio tersebut akan sangat bermanfaat jika ada tamu tamu yang berkunjung ke RRI Surabaya”, demikian kata Happy, Pengelola Layanan Publik Bidang Layanan Pengembangan Usaha, setelah acara selesai. (PAR/nng)
