Lomba Menulis Aksara Jawa Adalah Ruang Asah, Asih dan Asuh Dalam Pelestarian Budaya.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Agenda Sumpah Budaya 2026 pada 25 Oktober 2026 di Bangsal Panca Walika, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya merupakan bentuk estafet dan kelanjutan historis dari semangat persatuan Nusantara yang dirintis melalui Sumpah Palapa (1336) di era Majapahit dan Sumpah Pemuda (1928) di masa pergerakan nasional.

Ini adalah mimpi kecil yang untuk semangat besar Nusantara. Semua berangkat dari hal hal kecil sebagaimana slogan “sedikit sedikit lama lama menjadi bukit”.

Peribahasa “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” ini bermakna bahwa usaha atau tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang besar.

Dalam slogan itu ada nilai konsistensi bahwa suatu hasil besar tidak dicapai secara instan, melainkan dari akumulasi langkah-langkah kecil, yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Proses ini membutuhkan ketekunan meskipun kemajuan awalnya terlihat kecil atau lambat.

Tidak hanya dalam lomba menulis aksara Jawa saja, namun juga berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, seperti contohnya menabung uang, belajar keterampilan baru, hingga membangun kebiasaan hidup sehat.

Ikrar Budaya ini bisa diikuti dengan mendaftar diri sebagai peserta Lomba menulis Aksara Jawa. Penulisannya bersifat empiris. Yaitu menyalin teks beraksara Jawa yang disiapkan panitia. Menyalin teks ini bagai menggambar garis dan lekuk, tidak perlu ada proses belajar membaca dan menulis aksara Jawa secara pedagogik pada umumnya. Karenanya lomba ini terbuka bagi umum mulai siswa SMA/SMK, mahasiswa, umum dan pegiat budaya se Jawa Timur untuk memperebutkan Trofi miniatur Candi Bajang Ratu yang diproduksi dari Bumi Majapahit oleh Sanggar Bhagaskara serta uang pembinaan.

Lombanya cukup fun dan diselingi dengan Sumpah/Ikrar Budaya dan Sarasehan “Aksara Jawa Goes Digital” yang disajikan oleh praktisi asal Yogyakarta. Lomba ini adalah ruang belajar bersama dalam mengenal kembali tradisi dan budaya Nusantara.

Kegiatan bersama, yang diinisiasi oleh Puri Aksara Rajapatni, Pasopati Cakra Nusantara dan Kota Raja Gresik ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang belajar yang efektif untuk mendekatkan kembali tradisi lokal dengan era modern.

Ini adalah ruang saling asah,asih dan asuh, dimana peserta dari generasi tua menjadi teladan dalam menjaga dan menjadi benteng budaya.

Konsep asah, asih dan asuh. Foto: ist

Konsep “asah, asih, dan asuh” yang dipadukan dengan peran generasi tua sebagai benteng budaya menciptakan ekosistem ruang yang luar biasa.

Asah (Saling Mempertajam): Menjadi ruang transfer pengetahuan, di mana kearifan lokal, tradisi, dan nilai-nilai luhur diajarkan agar generasi muda memiliki kecerdasan budaya.

Asih (Saling Mengasihi): Menumbuhkan rasa cinta terhadap identitas bangsa dan ikatan emosional antar-generasi yang harmonis.

Asuh (Saling Membimbing): Generasi tua tidak sekadar mendikte, melainkan menuntun, melindungi, dan menjadi teladan nyata (role model) dalam mempraktikkan budaya tersebut sehari-hari. (PAR/nng).

 

Bersama dalam Lomba. Foto: par

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *