Budaya Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Bertemunya peserta dewasa (umum dan pegiat Budaya) dan Remaja (SMA/SMK dan Mahasiswa) bulan tidak punya alasan. Bahkan mereka membaur dalam satu kategori yang sama untuk memperebutkan trofi Ke Majapahitan.
Alasannya adalah bahwa lomba ini adalah ruang edukatif yang saling asah, asih dan asuh. Konsep tradisional Jawa ini mengubah paradigma lomba dari sekadar kompetisi yang kaku menjadi wadah pembelajaran yang harmonis. Apalagi lomba ini merupakan ajang belajar sejarah dan budaya serta literasi. Semua bisa belajar mulai dari yang muda hingga yang dewasa /tua.
Belajar tidak membatasi usia. Belajar adalah proses sepanjang hayat (lifelong education) yang tidak mengenal batasan usia maupun waktu.
Disadari bahwa konsep belajar sepanjang hayat ini adalah hak setiap orang. Maka, pendidikan dan pencarian serta penyediaan ilmu melalui ajang lomba ini memang dibuat terbuka bagi siapa saja, dari usia remaja hingga usia lanjut.
Tanpa kata terlambat, maka selama seseorang masih bernapas dan memiliki tekad, selalu ada kesempatan untuk memahami hal baru dan berkembang.
Wadah ini sekaligus bentuk fleksibilitas modern. Banyak institusi pendidikan, seperti Universitas Terbuka, menyediakan sistem belajar fleksibel yang memungkinkan berbagai kalangan usia untuk tetap kuliah sambil bekerja.
Lomba Menulis Aksara Jawa ini juga memberikan kesempatan bersama dalam ekosistem asah, asih dan asuh. Dalam konteks budaya Jawa sendiri, prinsip asah, asih, dan asuh adalah pilar penting dalam pembentukan karakter dan komunitas yang harmonis. Surabaya menyelaraskan harmonisasi itu. Surabaya mempertemukan dua golongan usia dalam satu wadah bersama melalui jarum aksara Jawa.

Prinsip Asah, Asih, dan Asuh memang merupakan fondasi utama dalam falsafah hidup masyarakat Jawa untuk menciptakan tatanan sosial yang harmonis, saling melengkapi, dan penuh kasih sayang.
Sementara metafora “jarum aksara Jawa” menggambarkan bagaimana warisan budaya tradisional dapat bertindak sebagai benang pengikat yang mempertemukan dua generasi (golongan usia), yakni generasi tua sebagai penjaga memori kolektif dan generasi muda (milenial/Gen Z) sebagai penerus masa depan. (PAR/nng).

