Kesan Kesan Dari Lomba Menulis Aksara Jawa 

Budaya Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Lomba Menulis Aksara Jawa sudah usai dan tentu saja meninggalkan kesan yang bisa menjadi cerminan kita semua.Berikut adalah komentar pemenang, Juri dan pendiri Puri Aksara Rajapatni.

“Sore kak, maaf baru bales. Kalau saya sendiri, awalnya itu mencoba latihan pakai pensil dulu. Setelah itu, saya beralih ke pulpen biasa. Kalau sudah mulai lancar, baru saya lanjut latihan pakai pulpen kaligrafi. Nah, untuk belajar huruf-hurufnya, sebenarnya sudah diajarkan di sekolah karena kebetulan bab yang sedang dipelajari sekarang juga tentang aksara Jawa. Untuk latihan lombanya, saya pakai font Noto Sans Javanese Regular yang ada di file Informasi dan Tata Tertib yang dikirim di grup. Jadi, selama seminggu sebelum lomba itu saya rutin latihan menulis pakai font itu di kertas HVS A4, jadi bisa tahu cukup atau tidak dalam satu halaman nantinya. Begitu kak”, begitu komentar Juara Harapan 3, Achmad Prayogi.

Berikut ini Juara 3 Purna Herawati yang berprofesi sebagai Guru Bahasa Jawa dari Gresik.

Juara 3,Purna Herawati asal Gresik. Foto: nng

“Selamat sore bu. sebenarnya saya belajar menulis aksara Jawa sudah lama, ketika di Gresik saya bergabung dengan pegiat aksara di Gresik dengan nama komunitas Kotaraja. tetapi untuk belajar menulis indah saya dari bulan September. Saya belajar di Perpustakaan dan Kearsipan Gresik. tetapi yang memberi materi bapak Ali Topan”.

Sementara itu juri dari Majalah Bahasa Jawa Panjebar Semangat, Nana Lie berkomentar:

Juri lomba menulis aksara Jawa. Nana lie ,,(kiri) dam Setya Amrih Prasaja (kanan).Foto: nng

“Mencermati proses pengerjaan dan waktu yang mereka manfaatkan, menunjukkan pengetahuan ber-aksara Jawa peserta beragam. Ada yang sudah lancar, ada sambil belajar. Ada juga yang belum lama berkenalan. Yang sama adalah antusiasmenya. Setiap peserta berusaha memastikan hasil karyanya rapi dan indah. 

Karya-karya yang unggul mengesankan penulis yang sudah paham bentuk dan lekuk setiap aksara.Tantangan mereka sudah di next level, yaitu membuat ciri khas alias cakrik aksara, yang kemudian menjadikan mereka pemenang”.

Sementara itu komentar juri asal Yogyakarta Setya Amrih Prasaja adalah sebagai berikut:

“Secara umum… Sudah bisa memahami dan membaca aksara yang mereka salin meski baru 70%, dan sisanya terlihat masih buta artinya aksara bagi mereka tampak seperti gambar dan pola yang tak bermakna”.

Sedangkan komentar Ita Surojoyo, pendiri Puri Rajapatni adalah:

Ita Surojoyo (kanan) menyerahkan hadiah kepada peserta dengan bysaiterbsik. Foto: nng

“Lomba kali ini menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi dari lomba yang pernah digelar Rājapatnī sebelumnya. Mencari peserta sangat menantang tapi di lomba ini kuota sudah terpenuhi lebih awal dari batas pendaftaran. Dari segi kualitas tulisan juga menunjukkan hal yang sangat positif. Pelan pelan, saya yakin akan semakin banyak orang yang akan peduli dengan aksara Jawa apalagi jika mereka diberi kesempatan berekspresi dalam lomba”.

Next level? Kenapa tidak! (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *