Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Salah satu Juri Lomba Menulis Aksara Jawa, yang digelar di Surabaya (25/10/26), dari Yogyakarta, Setya Amrih Prasaja yang juga seorang Kasi Bahasa, Sastra dan Aksara di Kundha Kebudayaan DIY kagum atas hasil kerja peserta khususnya yang akhirnya terpilih sebagai juara.
Menurut Joko Elysanto, salah seorang narasumber Sarasehan Budaya yang juga dari Yogyakarta dalam paparannya mengatakan bahwa semua peserta adalah pemenang dan pahlawan karena telah berani menunjukkan kemampuan dalam ekspresi budaya Jawa, yakni menulis aksara Jawa
Tapi karena hadiah yang tersedia hanya ada 6 maka dari 160 peserta harus disaring sesuai dengan ketersediaan hadiah. Ada 3 trofi untuk juara 1, 2 dan 3 dan 3 juara harapan.
Dari ketiga juara itu masing masing adalah Muhammad Zafran Prasetya (juara 1), Alkindy Bagus Adi (juara 2) dan Purna Herawati (juara 3).






Hasil karya tulis aksara Jawa mereka sungguh membuat juri asal Yogyakarta Setya Amrih Prasaja ini terkagum dan tentunya tim panitia lainnya.
Anak anak Surabaya ternyata memiliki kemampuan dan keterampilan menulis aksara tradisional yang luar biasa. Ini adalah prestasi anak anak Surabaya yang secara umum layak mendapatkan perlindungan, baik terhadap upaya mengarahkan keterampilan dan talenta anak maupun dalam upaya perlindungan objek kebudayaannya sebagai wujud pelestarian dan pemajuan yang nyata.
Aksi aksi festival aksara Jawa dan budaya aksara Jawa telah diawali oleh kelompok kelompok komunitas yang bahkan telah berinisiasi dalam berjejaring secara nasional dan internasional demi membawa tradisi aksara Jawa setara dengan aksara tradisional global lainnya (Hanzi, Kanji dan Hindi). Termasuk membawa aksara Jawa ke ruang digital.
Menurut Konsul Kehormatan India untuk Jawa Timur, Manoj Bhat, bahwa upaya itu bukanlah pekerjaan yang mudah tetapi ternyata bisa dilakukan.
Sementara menurut Ketua Puri Aksara Rajapatni Nanang Purwono bahwa pihak pihak pemangku wilayah harus melihat fakta ini dan saatnya ada langkah langkah nyata dalam memberikan perlindungan dan upaya pelestariannya. Aksara Jawa adalah identitas bangsa.
Ketika warga bangsa lain yang dengan rela membuka gelaran budaya bangsa Indonesia, dimana pemilik budaya bangsa sendiri? (PAR/nng)
