Hari Menyusui Sedunia.

Musee ID – Menyusui adalah praktik tradisional yang merupakan tradisi leluhur di Nusantara yang dilandasi nilai budaya dan ikatan keluarga.

Menyusui adalah kebiasaan, yang dilakukan oleh masyarakat dalam memberikan makanan yang bernutrisi bagi bayi. Dan ternyata menyusui tidak hanya menjadi pandangan masyarakat lokal dalam memberikan nutrisi bagi bayi, tetapi juga hal umum dalam pandangan masyarakat dunia.

Karena nilai pentingnya itu Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) meningkatkan kesadaran pentingnya air susu ibu (ASI) eksklusif melalui kampanye global yang didukung oleh World Health Organization (WHO) dan UNICEF. Kampanye atau peringatan ini berlangsung mulai tanggal 1 hingga 7 Agustus setiap tahunnya. Hari ini Sabtu, 1 Agustus, mengawali pekan menyusui Sedunia.

Semua bangsa bangsa tahu bahwa menyusui sebagai sarana utama merekatkan kasih sayang ibu dan anak. Keyakinan ini juga sudah menjadi pandangan masyarakat Nusantara sejak lama, misalnya di berbagai suku, seperti Bugis dan Jawa serta Bali.

Secara tradisional nenek atau keluarga besar sering ikut mendampingi ibu dalam tradisi perawatan pasca melahirkan.

Tradisi pendampingan ibu pasca melahirkan oleh nenek atau keluarga besar ini merupakan bentuk dukungan sosial yang sangat penting bagi pemulihan fisik dan mental ibu baru. Peran utama mereka ini meliputi bantuan merawat bayi, penyediaan makanan khusus pemulihan, serta pendampingan emosional.

Menyusui bayi adalah sikap universal karena ini merupakan salah satu tindakan paling alami dalam sejarah manusia. Aktivitas ini melintasi batas geografis, budaya, dan waktu sebagai cara utama untuk menutrisi serta melindungi bayi yang baru lahir.

ASI dipercaya menyediakan kombinasi ideal antara protein, lemak, vitamin, dan karbohidrat yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh, dimanapun seorang bayi lahir, ASI memberikan antibodi alami yang melindungi mereka dari infeksi dan penyakit di lingkungan sekitar di berbagai geografi dunia.

ASI (Air Susu Ibu) disebut ajaib karena kandungannya yang hidup dan dinamis, meliputi penyesuaian nutrisi otomatis, zat kekebalan tubuh, serta pembentukan ikatan emosional.

Kini di era modern, Air Susu Ibu (ASI) menghadapi dunia modern dengan memanfaatkan teknologi pompa ASI elektrik, dukungan komunitas laktasi digital, serta edukasi kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mengatasi tantangan kesibukan kerja dan gaya hidup serba cepat.

 

Tantangan di Era Modern

Waktu bersama bayi memang berkurang karena tuntutan pekerjaan kantoran. Gaya hidup cepat itu dapat memicu kecemasan yang berdampak pada hormon oksitosin dan kualitas ASI.

Namun ada teknologi pompa. Yaitu penggunaan alat perah elektrik yang mempermudah penyimpanan stok ASI. Apakah ASI tetap bisa bertahan di dunia yang serba cepat ini?

(*) Baca dan ikuti Musee ID Konsultan Museum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *