Budaya Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara Jawa, Sumpah/Ikrar Budaya dan Sarasehan “Aksara Jawa Goes Digital” adalah momen langka yang kiranya terjadi hanya sekali seperti halnya Sumpah Palapa (1336) dan Sumpah Pemuda (1928). Karena kelangkaan itulah maka Puri Aksara Rajapatni mempersiapkan pendokumentasian dalam bentuk Buku Catatan sehingga semangat dan isi kegiatan dapat dikenang.
Para peserta event adalah pelaku pelaku aktif dalam ikrar Budaya ini, yang ditandai dengan penulisan dalam bentuk lomba yang sumbernya diambil dari karya pujangga Sri Susuhunan Pakubuwono IV tahun 1788 M.
Adapun karya sastra yang berbentuk Serat Wulangreh Pupuh Pangkur atau Dandanggula ini berisi tentang tata Krama sosial bagaimana seharusnya bertutur kata yang baik.
Lomba menulis adalah sarana kegiatan yang menghubungkan dengan sejarah dan peradaban. Ternyata tata Krama itu sudah lama ada dalam peradaban Jawa. Bahkan nilai persatuan pun sudah nyata nyata ada dengan fakta Sumpah Palapa.
Sekarang di era kemerdekaan, adalah kewajiban warga negara untuk memelihara keberagaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu keragaman itu adalah budaya yang salah satunya menjadi objek dalam kegiatan lomba. Yaitu Aksara Jawa.
Memelihara kelestarian Aksara Jawa melalui perlombaan merupakan salah satu langkah nyata dalam menjaga kekayaan budaya NKRI. Di era digital dan kemerdekaan saat ini, tantangan terbesar adalah memastikan generasi muda tetap mengenali dan bangga terhadap aksara daerahnya sendiri agar tidak punah ditelan zaman.

Event yang membanggakan dari Surabaya dan Jawa Timur untuk Nusantara ini layak didokumentasikan karena proses pelaksanaannya menggambarkan sifat rakyat Surabaya dan Jawa Timur. Yaitu Gotong Royong. Pendukung acara ini meliputi komunitas budaya: Puri Aksara Rajapatni, Pasopati Cakra Nusantara, Kota Raja Gresik, Sega Jabung dan Genk Kobra Jogja, Masjid Kemayoran Surabaya, PANDI Jakarta, Tabloid Nyata, Panjebar Semangat, Penabudaya.com, Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya, Sanggar Bhagaskara Trowulan, Damar Kurung dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Pun demikian dengan pesertanya yang meliputi siswa SMA/SMK, Mahasiswa, Guru, Umum dan Pegiat Budaya Se Jawa Timur.
Event ini tidak sekedar lomba tapi sebuah gerakan budaya bersama di tengah tengah arus globalisasi demi menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa.
Buku ini merekam naskah Serat Wulangreh dan teks Sumpah Budaya, serta hasil tulisan para juara lomba yang memang patut untuk diabadikan.(PAR/nng)
