Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Secara fisik kunjungan PM India Narendra Modi ke Candi Prambanan (Indonesia) telah usai. Candi Prambanan menjadi latar indah dan saksi pertemuan dua pemimpin negara Indonesia dan India pada 8 Juli 2026 lalu.

Candi Prambanan menjadi lambang persahabatan dua negara secara kultural dan spiritual. Candi Prambanan memang menyatukan perbedaan sesuai dengan riwayatnya. Yaitu Candi dibangun oleh Raja Rakai Pikatan yang menikahi Pramodawardhani.
Pernikahan Adalah Penyatuan
Pernikahan Raja Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya (Hindu) dengan Pramodawardhani dari wangsa Syailendra (Buddha) adalah langkah politis untuk menyatukan dua dinasti besar di Mataram Kuno. Hal ini membuktikan toleransi beragama yang kuat di mana Rakai Pikatan membebaskan istrinya tetap memeluk Buddha.

Pun demikian ketika peresmian restorasi Candi Prambanan dimana PM Narendra Modi turut berdoa (sembahyang) bersama umat Hindu, yang disaksikan oleh kebanyakan umat beragama lain (non-Hindu) pada kesempatan seremonial itu. Indahnya toleransi ini terkemas dalam bingkai indahnya lokasi.
Restorasi Adalah Bingkai
Sebenarnya restorasi bersama ini adalah bingkai dari hubungan persahabatan dalam bidang kebudayaan, yang di dalamnya ada nilai nilai luhur: toleransi, spiritual, kegotongroyongan dan literal serta kesusastraan.
Secara literal, di Candi Plaosan yang tidak jauh dari Candi Prambanan terdapat banyak Inskripsi beraksara Jawa Kuno, yang masih ada pengaruh aksara Pallawa yang berasal dari India di abad 8-9..
Inskripsi Beraksara Jawa Kuno Dengan Pengaruh Pallawa

Di candi itu terdapat sekitar 70 inskripsi pendek, yang terukir jelas di berbagai bangunan candi perwara (pendamping) dan stupa.
Inskripsi ini ditulis dalam aksara Jawa Kuno (sering disebut aksara Kawi) dengan gaya yang masih memperlihatkan pengaruh kuat dari aksara Pallawa asal India, yang umum digunakan pada awal perkembangan tulisan di Nusantara.

Berdasarkan kajian para epigraf, inskripsi dan kompleks percandian ini berasal dari masa keemasan Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 (masa pemerintahan Rakai Pikatan), meskipun ada bagian yang dibangun sejak pertengahan abad ke-8.
Gotong Royong (Kebersamaan)
Umumnya, inskripsi-inskripsi tersebut bukanlah titah raja, melainkan catatan wakaf, nama pejabat, anggota masyarakat, serta ikatan gotong royong pendanaan pembangunan stupa atau candi.
Nilai nilai tersebut di atas menjadi bentuk pemajuan dalam hubungan Indonesia dan India di era modern ini. (PAR/nng)
