Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ini bisa menjadi kajian yang sangat menarik. Yakni terkait dengan aksara dan bahasa. Indonesia adalah negara yang memiliki berbagai aksara, yang dalam satu wadah bernama Aksara Nusantara. Isinya ada aksara Jawa, Bali, Bugis, Lampung, Sunda, Batak dan masih ada aksara daerah lainnya. Masing masing aksara itu memiliki anatomi gores yang berbeda.
Secara komparatif, negara negara lain aksaranya mungkin serupa. Misalnya Kanji Jepang, Hanzi China, Hangeul Korea dan Thai Thailand..
Tapi aksara Nusantara memiliki Jawa Carakan, Sunda, Lontara, Lampung dan Mandailing yang sangat berbeda secara bentuk. Inilah kekayaan dan keistimewaan Nusantara.
Lokal

Secara lokal terwadahi dalam Peraturan Daerah (Perda) yang telah dibuat oleh beberapa daerah tertentu seperti Yogyakarta, Jawa Barat dan Bali. mereka sudah memiliki Perda yang mengatur Bahasa, Sastra dan Aksara. Disadari bahwa masing masing adalah objek yang berbeda tapi memiliki keterkaitan satu sama lain.

Perda perda itu mengatur tersendiri tentang Bahasa, tentang Sastra dan tentang Aksara. Di berbagai daerah di Indonesia, peraturan perundang-undangan tingkat daerah (Perda) secara khusus memang disusun untuk memayungi dan melestarikan tiga unsur kebudayaan ini: Bahasa, Sastra, dan Aksara daerah.

Perda dibuat untuk mengakomodasi kekhasan, potensi, serta nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat setempat yang belum diatur secara spesifik oleh pemerintah pusat melalui Undang Undang.
Peraturan Daerah (Perda) memang dibuat khusus untuk menyelenggarakan otonomi daerah, tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah (kearifan lokal).
Global
Pemahaman ini (membedakan antara aksara dan bahasa) tidak hanya berlaku secara lokal tapi UNIVERSAL. Buktinya PBB melalui UNESCO menyelenggarakan peringatan tersendiri antara Hari Bahasa Ibu Internasional dan Hari Aksara Internasional.
Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap tanggal 21 Februari. Peringatan tahun ini (2026) mengusung tema “Suara kaum muda tentang pendidikan multibahasa”. Tema ini menyoroti peran penting generasi muda dalam membentuk masa depan pendidikan yang inklusif dan merayakan keberagaman linguistik.
Hari ini ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 2000. Hari peringatan ini bertujuan untuk melestarikan keanekaragaman budaya dan bahasa yang terus terancam punah. Di Indonesia, perayaan ini diwarnai dengan berbagai kegiatan pelestarian, seperti lokakarya, seminar, dan Festival Tunas Bahasa Ibu, yang diselenggarakan oleh instansi terkait seperti Badan Bahasa dan Balai Bahasa setempat.
Hari Aksara Internasional

Hari Aksara (Literasi) Internasional diperingati setiap 8 September. Peringatan ini dicetuskan oleh UNESCO pada 1965 saat Konferensi Menteri Pendidikan di Teheran, Iran, yang bertujuan mengingatkan masyarakat global akan pentingnya kemampuan membaca dan menulis sebagai hak asasi manusia yang fundamental.
Aksara adalah abjad yang secara tradisional, bangsa Indonesia memiliki abjad tersendiri yang bersifat lokal dan boleh dibilang abjad/huruf/aksara ibu (aksara Nusantara).
Kaya Aksara
Bangsa Indonesia memiliki kekayaan sistem tulis tradisional atau yang dikenal dengan Aksara Nusantara. Sebagian besar aksara lokal ini bersifat abugida (suku kata) yang berakar dari Aksara Pallawa (India), yang kemudian berkembang menjadi sistem lokal di berbagai daerah di Indonesia. Yaitu:
Aksara Jawa (Hanacaraka): Digunakan secara luas di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur (termasuk Surabaya dan sekitarnya), serta wilayah pengaruh budaya Jawa seperti Cirebon.
Aksara Sunda: Merupakan sistem tulisan yang digunakan masyarakat Sunda dan merupakan hasil penyempurnaan dari aksara Sunda kuna.
Aksara Bali: Masih cukup aktif digunakan dalam aktivitas keagamaan dan adat di Bali.
Aksara Lontara (Bugis-Makassar): Digunakan oleh masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar di Sulawesi Selatan.
Aksara Lampung: Memiliki ikatan erat dengan aksara Pallawa dan memiliki 20 huruf induk.
Aksara Batak (Surat Batak): Digunakan oleh berbagai sub-etnis Batak untuk menulis naskah sastra, catatan Penanggalan, hingga ilmu pengobatan tradisional.
Aksara Kerinci (Rencong/Incung): Aksara tradisional yang digunakan oleh masyarakat Kerinci di Jambi.
Aksara Rejang: Digunakan oleh masyarakat suku Rejang di wilayah Bengkulu.
Aksara aksara Nusantara ini menjadi perhatian UNESCO melalui kebijakan penyelenggaraan peringatan International Literacy Day yang diperingati setiap tanggal 8 September.
Nasional

Secara nasional (di Indonesia) berdasarkan UU nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan khususnya di Pasal 5 tentang Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), yang diatur adalah Bahasa. Sementara Aksara dianggap masuk dalam objek Bahasa. Sehingga tidak ada aturan khusus.
Kalau begitu bagaimana dengan manuskrip, seni sastra dan lisan? Mereka mengandung unsur bahasa tapi bisa berdiri sendiri. Meski masih sangat terkait dengan bahasa.
10 Objek Pemajuan Kebudayaan adalah:
1. tradisi lisan,
2. manuskrip,
3. adat istiadat,
4. ritus,
5. pengetahuan tradisional,
6. teknologi tradisional,
7. seni (seni sastra)
8. BAHASA,
9. permainan rakyat, dan
10. olahraga tradisional.
Mengapa tradisi Lisan, Manuskrip dan Seni (sastra) dapat berdiri sendiri sebagai OPK di luar bahasa?. Padahal mereka mengandung bahasa?
Jangan salahkan dan sesalkan kalau peradaban aksara daerah, yang merupakan identitas bangsa ini, semakin punah (meredup).
India dan Budaya Nusantara

Padahal Perdana Menteri India Narendra Modi dan rombongan dalam kunjungan resminya baru baru ini begitu menghargai produk budaya Nusantara yang didalamnya ada aksara.
PM Narendra Modi mengunjungi Candi Prambanan. Sementara timnya berkunjung ke Candi Plaosan yang menyimpan banyak aksara Jawa Kuno (Kawi).
Jika India masih mau menengok aksara Nusantara. Bagaimana dengan bangsanya sendiri?
Sesungguhnya Pemerintah India tidak hanya datang untuk membantu dan berkolaborasi tentang perbaikan fisik candi Prambanan. Itu hanyalah simbol fisik yang bersifat tangible. Tapi lebih jauh dari itu adalah yang bersifat intangible. Prambanan memiliki makna pembauran (hubungan antara perbedaan), gotong royong (yang turut membangun tidak hanya raja, tetapi melibatkan pejabat dan rakyat) dan spiritualitas.
Prambanan adalah mahakarya peradaban Nusantara, yang merepresentasikan harmoni, gotong royong, dan spiritualitas. Sekali lagi pembangunannya tidak hanya melambangkan kebesaran kerajaan, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana elemen masyarakat dan berbagai dinasti bersatu dalam keberagaman. (PAR/nng)
