Budaya Aksara
Rajapatni.com : ŚŪRABHAYA – Menyemangati dan mendorong para siswa yang antusias mempelajari menulis dan membaca aksara Jawa di Surabaya. Karena kapasitas terbatas, jumlah peserta dibatasi. Cukup 125 peserta.
Lomba adalah ajang apresiasi mereka yang antusias dan mau belajar aksara kuno Nusantara. Sekecil apapun jumlah peserta (karena kapasitas ruangan), apresiasi harus diberikan. Setidaknya dapat mewadahi dalam sebuah festival/lomba, yang dari pemenangnya tentu ada apresiasi lanjutan.
Apresiasi yang tidak dapat diukur oleh materi adalah kemauan mereka yang mau belajar dan menjaga tradisi Nusantara di Surabaya.

Lomba adalah kanal atau jalur yang bisa mewadahi kreativitas dan kemauan para siswa itu.
Kanal dan jalur lainnya seyogyanya perlindungan hukum karena ada anak anak muda (siswa) yang mau menjaga tradisi tua Nusantara yang ada di Surabaya. Sejarah Surabaya.
Lomba ini tidak sekedar menulis aksara Jawa pada lembar kertas kerja, tetapi sekaligus belajar sejarah kota Surabaya. Yaitu sejarah klasik Surabaya bahwa Surabaya pernah bernama Śūrapringga, Surabaya pernah berbentuk Pemerintahan Kabupaten, Surabaya pernah memiliki Konsep tata Kota Catur Gatra Tunggal yang berada di kawasan Kemayoran (Indrapura).
Surabaya pernah ada alun alun, rumah Bupati (Kabupaten), Masjid dan kampung Kauman. Empat Gatra itu masih ada jejaknya, jejak sejarah nya. Haruskah jejak itu dibiarkan terkubur atau bahkan dikubur oleh generasi tua, yang memangku kota dan membiarkan generasi muda tercabut dari akar sejarah nya.

Inilah pentingnya kegiatan lomba atau festival sebagai sarana menjaga sejarah dan menjaga ingatan kolektif Surabaya. Lomba ini pun masih sebatas inisiasi kreatif anak muda Surabaya.
Mana generasi tua, yang harus dan bisa dipanuti? (PAR/nng)
