Pentingnya AKSARA untuk BAHASA. ini alasannya.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Kata “Gubeng” (stasiun Gubeng), terkadang diucapkan /Gubêng/ dengan e Pepet dan /Gubéng/ dengan e taling. Ini karena aksara latin dalam bahasa Indonesia tidak mengenal e dipepet dan e ditaling seperti dalam aksara Jawa. Sehingga tidak ada acuan dalam pengucapan.

Ketika e dipepet dan e ditaling tidak merubah makna suatu kata tidak masalah, tetapi jika perbedaan pengucapan (pronunciation) itu membedakan makna, ini yang jadi masalah.

Misalnya pada kata:

Apêl (e dipepet), maka ini menunjukkan buah apel, yang bisa dimakan.

Berbeda dengan Kegiatan Apél bendera atau kegiatan berbaris di lapangan.

Begitu pula dengan kata Sérang dengan (e taling – é) yang berarti nama sebuah kota.

Berbeda dengan kata Sêrang dengan e dipepet, yang berarti tindakan menyerang atau melakukan serangan.

Dalam bahasa Jawa kata yang berbunyi /sésék/ dan /sêsêk/ berbeda makna. Sésék adalah dinding atau anyaman kasar dari bambu.

Sementara sêsêk berarti susah bernapas atau dada terasa terhimpit dan juga bisa berarti pakaian yang kekecilan.

Dalam aksara Latin tidak membedakan suara ê dipepet dan é ditaling.

Namun dalam aksara Jawa ê dipepet ditulis/diberi tanda (ꦼ) di atas aksaranya. Misalnya /ꦠꦼꦧꦸ/ yang berarti têbu.

Sementara pada kata dengan suara é ditaling (ꦺ) seperti pada kata téla, akan ditulis /ꦠꦺꦭ/

Sehingga ucapan secara benar dapat dipandu melalui penulisan. Bahwa Sésék dan sêsêk adalah kata yang berbeda makna. Inilah pentingnya Aksara untuk Bahasa.

 

Diakritik

Penulisan aksara Jawa. Foto: ist

Tanda baca ini yang disebut diakritik. Diakritik adalah tanda baca atau simbol kecil yang ditambahkan pada sebuah huruf untuk mengubah atau memperjelas cara pengucapan, bunyi, fungsi, atau makna kata tersebut.

Sayangnya, Aksara Latin untuk bahasa Indonesia tidak menggunakan diakritik atau mengabaikannya. Sementara aksara Latin untuk bahasa Sansekerta, Hindi dan bahkan bahasa Jerman masih menggunakannya.

Seperti pada kata yang tertulis Śūrabhaya berbeda dengan kata Surabaya (dalam bahasa Sansekerta). Śūrabhaya dengan diakritik berarti berani menghadapi bahaya. Sementara Surabaya tanpa diakritik berarti buaya minum minuman beralkohol (arak). Kedua kata ini dalam bahasa Sansekerta.

Dalam aksara Jawa, bukan lagi ditulis dalam tanda baca (diakritik), tetapi ditulis dalam huruf/aksara dengan sandangan. Sandangan adalah tanda diakritik atau simbol penanda bunyi yang digunakan untuk mengubah atau melengkapi vokal dasar pada Aksara Jawa. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *