Budaya, Aksara.
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sebuah data kepesertaan Lomba menulis aksara Jawa menunjukkan jumlah peserta sementara ada 120 orang dengan jumlah asal informasi yang didominasi dari guru dengan 51 %. Data ini memberikan gambaran tentang tingkat efektivitas saluran informasi yang membuat 120 peserta tersebut mengetahui tentang lomba menulis aksara Jawa.
Ternyata Saluran Informasi Utama (Paling Efektif) adalah:

Guru (51%): Ini adalah sumber informasi terbesar. Artinya, lebih dari separuh peserta (74 orang) mengetahui lomba ini berkat peran aktif guru di sekolah atau lembaga pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan langsung melalui institusi pendidikan atau tenaga pendidik sangat sukses dan berpengaruh besar dalam menarik minat peserta.
Saluran Informasi Pendukung adalah Media Sosial & Komunitas yang terdiri dari:
Teman (27%): Sekitar 36 orang mengetahui lomba dari teman mereka. Ini menunjukkan adanya efek word of mouth (penyebaran dari mulut ke mulut) yang cukup kuat di antara sesama peminat atau pelajar
Komunitas (15%): Sekitar 9 orang mendapatkan informasi dari komunitas (misalnya komunitas budaya atau pelestari aksara Jawa). Ini berarti komunitas memiliki basis massa yang solid, meskipun jangkauannya tidak seluas guru.
Instagram (5%): Hanya sekitar 3 orang yang tahu dari Instagram. Angka ini relatif kecil untuk sebuah media sosial, yang bisa berarti promosi digital di platform tersebut belum maksimal atau target audiens lomba ini memang lebih responsif terhadap pendekatan personal/langsung.
Sisa Data yang Tidak Tersebut sebanyak 2%.
Jika persentase di atas dijumlahkan (51% + 27% + 15% + 5%), totalnya adalah 98%. Masih ada sisa 2% yang bersumber dari saluran lain yang tidak disebutkan dalam data, seperti flyer, WhatsApp, atau Facebook.
Fakta data ini menunjukkan bahwa guru yang merupakan bagian dari struktur jaringan pendidikan masih sangat efektif meski aksara Jawa belum diatur secara jelas dan tegas dalam aturan mulai Perda hingga undang undang.
Ini menjadikan periksa bagi para pemangku kebijakan daerah untuk memikirkan bahwa ada sejumlah guru yang terus menggiatkan dan memajukan aksara daerah Jawa di wilayahnya.
Dedikasi para guru yang terus menggiatkan dan memajukan aksara Jawa merupakan aset berharga bagi pelestarian budaya yang sudah seharusnya mendapatkan perhatian, apresiasi, dan dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Langkah konkret dari pemangku kebijakan sangat diperlukan agar perjuangan para guru ini tidak berjalan sendiri. (PAR/nng)
