Back to Surabaya” atau “Inilah Surabaya” merupakan penegasan identitas, 

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – “Awalnya Tabloid Nyata itu berbahasa dan beraksara Jawa”, demikian kata Nany Widjaja, CEO Tabloid Nyata di kantor barunya di jalan Cempaka Surabaya.

Berangkat dari riwayat itulah, Nany berkeinginan ada program baru dari tabloid Nyata dalam bentuk Podcast dan diskusi, yang bertema Surabaya dengan judul “Back to Surabaya” (Surɔbɔyɔ).

Ruang Podkes untuk Podcast Kesehatan. Foto: nng

Banyak loh tema tema yang bisa diangkat tentang Surabaya”, katanya di sela sela diskusi dengan Puri Aksara Rajapatni yang didampingi oleh dua stafnya (Adherina Nindyashari dan Robby Kurniawan)

Tempat baru, semangat baru. Awalnya Tabloid Nyata memang berkantor di jalan Wonokromo, kini berada di jalan Cempaka 27a Surabaya, tidak jauh dari bekas kediaman Bupati Surabaya, yang lingkungannya dikenal dengan Surabayan.

Forum diskusi dengan tema tema kesurabayaan akan semakin memperkuat identitas lokal yang sudah dikenal umum akan kesurabayaannya.

Surabaya memiliki identitas lokal baik bahasa (lisan) maupun aksara (tradisi tulis).

Itu faktual dan jejaknya masih ada di Surabaya. Seperti prasasti dan manuskrip. Bahkan beberapa karya sastra yang bernuansa Surabayaan ada juga seperti karya Suparto Brata dan Dukut Imam Widodo”, jelas Nanang dari Puri Aksara Rajapatni.

Lha forum diskusi itu menggunakan bahasa Surabayaan (red: bahasa Jawa Subdialek dialek Surabaya atau bahasa Arekan). Kita bisa undang Walikota Surabaya, pak Eri Cahyadi” papar Nany Widjaja.

Dengan program forum diskusi dengan menggunakan bahasa Arekan ini, kita semakin mengenal budaya lokal Surabaya. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan karakter warga setempat.

Arek Surabaya itu Trengginas”, tambah Nany.

Trengginas adalah kata sifat dalam bahasa Indonesia, yang berasal dari bahasa Jawa, yang berarti lincah, terampil, dan tangkas. Selain Egaliter. Namun tetap memiliki derajat kesopanan.

Dalam budaya Nusantara, karakter yang aktif dan setara (egaliter) tetap dijalankan dengan prinsip unggah-ungguh (tata krama).

Ciri karakter trengginas, yang egaliter dan sopan adalah orang yang memiliki komunikasi tegas, lugas seperti berbicara jujur tanpa merendahkan orang lain. Aksinya responsif: Cepat membantu tanpa memandang status sosial serta mampu memimpin sekaligus menjadi pendengar yang baik.

Dalam olah diskusi dan wicara nanti, gaya komunikasi semacam ini akan tampak. Full berbahasa Jawa dengan subdialek Surabaya (Arekan), awalnya mungkin agak sulit karena sudah terpengaruh oleh bahasa Indonesia atau budaya budaya non Surabaya.

Bagaimanapun forum diskusi berbahasa Jawa Subdialek dialek Surabaya (Arekan) ini tetap menarik karena memiliki karakteristik unik, yang membedakannya dari dialek lain. Forum demikian akan menguatkan identitas lokal. Dialek ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol kultural yang kuat. Inilah Surabaya.

“Inilah Surabaya (Jawa: Iki lho Surabaya)” bisa juga menjadi tagline atau kalimat pembuka yang kuat, Tagline ini bisa merupakan penegasan identitas, kebanggaan, dan penggambaran karakter asli kota Surabaya beserta masyarakatnya.

Sebagian masyarakat Surabaya adalah Pecinan, yang keberadaannya sudah lama di Surabaya, yang kawasan Pecinan itu, dikenal dengan nama Sìshuǐ /泗水/. Kawasan Pecinan Surabaya secara fisik memang pernah berkalang empat air (sungai). Yaitu kali Pegirian (Timur), Kalimas (Barat), Kalimati Kulon-Wetan-Kalimalang (Utara) dan Jalan Waspada yang dulunya dikenal sebagai sungai juga (Selatan). Di tengah tengah empat sungai itu adalah kawasan Pecinan Surabaya, yang dikenal dengan nama Sìshuǐ /泗水/.

Masyarakat Pecinan memang mewarnai Surabaya, baik secara historis maupun dalam perkembangan Kota Surabaya. Masyarakat Pecinan merupakan salah satu pilar utama, yang membentuk identitas sejarah, budaya, dan roda perekonomian Kota Surabaya.

Kehadiran etnis Tionghoa di Surabaya, yang telah berakar kuat sejak abad lama, meninggalkan warisan yang sangat kaya dan terus berkembang hingga hari ini.

Nilai nilai budaya ini juga menarik dalam tema tema diskusi “Back to Surabaya” atau “Inilah Surabaya”. Ini juga menunjukkan keberagaman (kebhinekaan) Surabaya.

Nany Widjaja menerima buku dari Puri Aksara Rajapatni. Foto: par

Di penghujung pertemuan itu Nany Widjaja menerima sejumlah buku “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya”, yang memang berisi gambar gambar sudut sudut kota lama Surabaya. Nany Widjaja tertarik dengan ilustrasi sketsa tentang Kota Lama Surabaya.

Buku “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya” ini dapat diperoleh dan dibeli di kantor Tabloid Nyata di jalan Cempaka 27a (kawasan Tegalsari) Surabaya dengan harga Rp. 250.000,-/eksemplar. Bukunya berisi 50  gambar gambar sketsa berwarna tentang Kota Lama Surabaya karya sketser Surabaya,  Budi Irawan. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *