Budaya Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Adalah pengalaman yang sangat langka, ketika mendapati sesuatu itu mekar dan semerbak di mancanegara, tepatnya Belanda. Di sana kulihat aksara Jawa: indah, elok dan mempesona.

Jejaknya terlihat jelas pada rute sejarah, bagai Mary’s Route atau di St Mary’s Passage, sebuah lorong pejalan kaki kecil, yang sangat bersejarah dan indah di jantung University Church of St Mary the Virgin, Universitas Oxford, Inggris.

Aksara itu telah menjejakkan petilasannya di berbagai sudut negeri bunga tulip dan kincir angin. Warnanya beragam dan hembusnya semilir menyejukkan, tetapi aksara tetap satu dan selalu tetap satu.

Aksara Jawa adalah nadi peradaban bangsa Jawa, yang dalam riwayatnya telah lama (dulu), melanglang buwana dan menebar pesona, menyatu dengan semilir angin yang mampu menggerakkan baling baling kincir angin di Zaanse Schans, Zaandam, dan desa nelayan Volendam, Belanda.
Aksara Jawa telah menjelajah buwana. Jejaknya nyata meski tak terlihat mata. Namun bagi saya di sana ada detak jantung yang memompa nadi kehidupan penjuru jalanan.

Aksara itu istimewa di Belanda karena nilai sejarah, akademis, dan pelestariannya yang luar biasa di sana. Hubungan historis antara Indonesia (khususnya Jawa) dan Belanda pada masa kolonial membuat banyak peninggalan literatur beraksara Jawa tersimpan dan dirawat dengan sangat baik di Eropa.

Sekarang Aksara Jawa masih melanglang buwana. Apalagi penulisan aksara Jawa dinominasikan sebagai aksara tulis tradisional ke UNESCO dan kehadirannya telah dikemas dalam teknologi digital sehingga mampu menembus segala ruang dan waktu.

Melalui jalur komunikasi WhatsApp, aksara Jawa bisa menembus batas Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia. Tidak perlu menunggu lama.
Mengetahui itu semua, dari sana (Belanda), saya pun menyatakan cinta padanya. Aksara akan selalu di hatiku. (PAR/nng)
