Tanpa Aksara, Seseorang Tidak Bisa Mengucap Asma Allah..

 

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ferdinand de Saussure, yang dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern menyatakan bahwa bahasa (langue) dan aksara (écriture) adalah dua sistem tanda, yang berbeda secara jelas. Bahasa adalah sistem tanda lisan dan mental yang hidup di dalam pikiran penuturnya. Sedangkan Aksara adalah sarana visual eksternal yang terpisah.

Aksara adalah lambang bunyi yang digunakan untuk menuliskan kata atau kalimat yang jika dilafalkan menghasilkan bunyi bahasa.

Tanpa aksara (huruf), maka seseorang tidak akan bisa berucap asma Allah (nama Tuhan). Karena kata “Allah” terdiri dari aksara A-L-L-A-H (dalam huruf latin) atau aksara hijaiyah: Alif (أ), Lam (ل), Lam (ل), dan Ha (هـ). Tanpa ada huruf terkait, maka tidak akan bisa berbunyi “ALLAH”.

Pahamilah aksara. Foto: par

Akhirnya, dapat dipahami lah bahwa secara fisik dan kebahasaan, pengucapan nama “Allah” memang terbentuk dari gabungan bunyi dan lambang huruf tertentu, baik dalam bentuk aksara Latin (A-L-L-A-H) maupun huruf Hijaiyah (أ-ل-ل-ه).

Seseorang bisa mengucap (melafalkan) “Allah” karena ada huruf huruf (aksara) terkait seperti disebut di atas. Dalam bahasa apapun. Misalnya dalam bahasa Inggris “God” karena ada aksara G-O-D. Tanpa ada aksara G-O-D, niscaya tidak akan bisa berbunyi “God”. Misalnya ada tatanan aksara S-O-U-P, bisakah berbunyi “God”?

Maka, betapa pentingnya Aksara untuk dipahami. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *