Budaya.
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Presiden Pertama Indonesia Soekarno pernah menyampaikan Konsep Trisakti Bung Karno. Ini merupakan tiga pilar untuk membentengi bangsa Indonesia.
Tiga pilar ini berbunyi:
• Berdikari di bidang ekonomi
• Berdaulat di bidang politik
• Berkepribadian dalam kebudayaan
Namanya pilar, yang secara harfiah berarti penyangga dari keruntuhan. Pilar adalah tiang penyangga utama agar sebuah bangunan atau sistem tidak roboh atau runtuh. Dalam konteks yang lebih luas, istilah ini sering dipakai untuk merujuk pada unsur pendukung yang menjaga kestabilan suatu gagasan, organisasi, atau bahkan negara.
Dalam konteks negara:
Berdaulat dibidang politik adalah bahwa Bangsa Indonesia bebas mengatur arah dan kebijakan negara sendiri tanpa campur tangan atau tekanan dari negara lain.
Berdikari di bidang ekonomi: adalah bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri dengan mengandalkan potensi dan kekuatan ekonomi dalam negeri sendiri.
Berkepribadian dalam kebudayaan berarti bahwa bangsa Indonesia tetap setia pada nilai-nilai budaya luhur sendiri dan tidak luntur oleh budaya asing yang negatif dan tidak sesuai.
Makna Berkepribadian dalam Kebudayaan adalah:
Melestarikan Budaya Asli: Artinya adalah menjaga nilai luhur, adat istiadat, dan gotong royong, yang menjadi ciri khas bangsa.
Menyaring Budaya Asing: Artinya adalah mengambil hal positif dari luar negeri, tetapi menolak budaya buruk yang merusak moral.
Jati Diri Bangsa: Artinya adalah membuat Indonesia tetap dikenal memiliki karakter kuat di tengah dunia yang modern.
Kiranya, itulah semangat Kongres Kebudayaan Nusantara 2026, yang digelar di Malang pada Sabtu, 8 Agustus 2026 dengan mengambil tema “Menemukan Kembali Jejak-Jejak Peradaban Nusantara” atau selengkapnya “Menggali Jejak-jejak Peradaban Kebudayaan Nusantara Menemukan Akar Jati Diri Bangsa”.
Tahun 1918 pernah diadakan Kongres Kebudayaan pertama di Surakarta dengan mengambil tema “Kesadaran Identitas & Sejarah Sebagai Fondasi Bangsa”.

Dari data yang bisa ditelusuri bahwa benar ada Kongres Kebudayaan pertama di Surakarta, yang tepatnya diadakan pada 5–7 Juli 1918, tetapi dengan nama resmi Congres voor Javaanse Cultuur Ontwikkeling (Kongres tentang Pengembangan Kebudayaan Jawa), bukan dengan kalimat tema “Kesadaran Identitas & Sejarah Sebagai Fondasi Bangsa”, namun memiliki arah yang sama. Kongres ini diprakarsai oleh Boedi Oetomo cabang Surakarta dan Pangeran Prangwedono (kemudian Mangkunegoro VII) di Kepatihan Mangkunegaran, Surakarta.
Berdasarkan narasi Wikipedia bahwa Kongres Kebudayaan Jawa 1918 (Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling) merupakan peristiwa bersejarah dalam perkembangan kebudayaan dan nasionalisme Indonesia, yang diselenggarakan pada 5–7 Juli 1918 di Kepatihan Mangkunegaran, Surakarta. Sebagai forum strategis pertama, yang mempertemukan para intelektual, budayawan, dan tokoh pergerakan dari berbagai latar belakang. Kongres ini bertujuan untuk membahas pelestarian, pengembangan, dan modernisasi kebudayaan Jawa dalam konteks perubahan sosial-politik masa kolonial.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah diskusi kebudayaan, tetapi juga menandai kesadaran kolektif akan identitas lokal yang kelak berkontribusi pada pembentukan nasionalisme Indonesia.
Kongress Jadi Penggerak
Di masa sekarang dengan Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 diharapkan menjadi penggerak kesadaran berbangsa, ruang bersama menggali nilai luhur, dan landasan arah pemajuan kebudayaan Indonesia.
Jawa Timur menjadi pelaksanaan pertama dari rangkaian lima gelaran Kongres sebanyak lima kali (Jatim, Jateng, Jabar, Bali dan Sumatera Utara) adalah tepat sekali.
Jawa Timur adalah Pusat Kerajaan Majapahit, yang dengan Sumpah Palapa dapat mempersatukan Nusantara pada 1336 M.
Dari Sumpah Palapa ini, dikuatkan dalam semangat pergerakan pada 1908 oleh Boedi Oetomo (BO) menjadi Kebangkitan Nasional. Selangkah kemudian pada 1928 lahirlah Sumpah Pemuda dan pada akhirnya di tahun 1945 tercetuslah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ikhtisar
1. Sumpah Palapa 1336
2. Kebangkitan Nasional 1908
3. Kongres Kebudayaan Jawa/Nasional 1918
4. Sumpah Pemuda 1928
5. Proklamasi Kemerdekaan 1945
6. Kongres Kebudayaan Nusantara 2026
Kini menjadi kewajiban warga negara untuk menjaga kemerdekaan dengan mengisi kemerdekaan. Salah satunya dengan pembangunan yang berbasis Kebudayaan (Cultural Based Development) seperti yang diajukan/diusulkan oleh A. Hermas Thony dari Puri Aksara Rajapatni Surabaya dalam Pra Kongres Kebudayaan Nusantara pada 2 Agustus secara daring.
Dalam Kongres Kebudayaan Nusantara tahun 2026 ini ada 7 (tujuh) Pokok Bahasan, yaitu:
• Sistem oral tradisional, Bahasa dan Aksara,
• Sistem Kepercayaan, Agama dan Filosofi Spiritual,
• Sistem Kemasyarakatan, Pedoman Hidup dan Ketatanegaraan,
• Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
• Historis dan Jejak Peradaban,
• Kesenian dan
• Sistem Kalender Akademik Masyarakat Adat.
Melalui pembagian Sub Sub tema ini diharapkan tema besar “Menemukan Kembali Jejak-Jejak Peradaban Nusantara” berhasil diidentifikasi dan diformulasikan sebagai upaya menemukan Kepribadian Dalam Kebudayaan sebagaimana sebelumnya diperkenalkan Soekarno melalui Konsep Trisakti. (PAR/nng).
