Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Selama ini Surabaya sudah dikenal sebagai kota modern dan metropolitan. Karenanya sebagian warganya yang hidup di kota ini ada yang merasa bahwa nama Surabaya jauh dari pencatatan dari era klasik. Bahkan dikatakan bahwa Surabaya tidak memiliki jejak dalam catatan kuno baik itu Manuskrip dan Prasasti.
Manuskrip Bureng

Perhatikan catatan di bawah ini. Dalam catatan sejarah Śūrapringga (nama lain Surabaya), nama ini tercatat dalam Manuskrip Bureng, sebuah naskah kuno abad 19, yang kini tersimpan di Qatar National Library (QNL). Dikisahkan bahwa Śūrapringga adalah sebuah “Negara Besar Surapringga”
Naskah ini membuktikan bahwa Surabaya pada masa lampau bukan sekadar kota pelabuhan biasa, melainkan pusat pemerintahan yang sudah terstruktur dengan fasilitas kota seperti alun-alun dan masjid besar.
Bureng adalah kawasan bersejarah dan kampung religi di Surabaya, yang terletak di Jalan Karangrejo VI Masjid II, Kelurahan Wonokromo, Kecamatan Wonokromo. Daerah ini sangat bersejarah karena dulunya menjadi pusat penyebaran agama Islam, yang ditandai dengan berdirinya Pondok Pesantren Bureng dan Masjid Bureng.
Pesantren Tua Bureng di kawasan Surapringga, Surabaya, yang menjadi pusat jaringan keilmuan dan tempat belajar para ulama dari Jawa Timur hingga Sunda.
Naskah ini menjadi salah satu dari ribuan koleksi berharga yang dipelajari sebagai bukti koneksi dan jalur rempah Nusantara di dunia Islam.
Negarakertagama

Selain itu, Śūrabhaya juga dicatat dalam naskah kuno berbentuk Lontar, yang ditulis oleh Mpu Prapanca yang bernama Kakawin Negarakertagama.
Dalam Kitab ini, Negarakertagama atau Desawarnana, yang digubah oleh Mpu Prapanca pada 1365 M, Surabaya disebut sebagai “Śūrabhaya”. Dalam rangkaian kunjungan keliling Raja Hayam Wuruk ke wilayah timur, baginda diberitakan sering singgah di wilayah Śūrabhaya saat berada di kawasan Jenggala, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke wilayah Buwun.
Nama Śūrabhaya tertulis dalam Pupuh 17 bait 5 yang berbunyi “Yan ring Janggala lot shaba nepati ring Śūrabhaya manurus mare Buwun”.
Berdasarkan sumber sejarah, lokasi Surabaya Kuna (Çūrabhaya) pada zaman Majapahit berbeda dari wilayah kolonial saat ini. Area Śūrabhaya ini terletak lebih ke selatan di sekitar kawasan delta yang diapit oleh Kali Surabaya dan Kali Pegirian, yang saat ini diperkirakan berada di daerah Semut, Pengampon.dan Kalianyar.
Adapun kunjungan Hayam Wuruk ke wilayah Śūrabhaya saat itu (1365 M) merupakan bagian dari perjalanan pesiar, napak tilas, dan ziarah suci ke daerah-daerah kekuasaan di ujung timur Pulau Jawa.
Prasasti Canggu

Selain itu, ada catatan lagi mengenai Surabaya yang berupa prasasti Canggu (1358) yang artefak ya tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Śūrabhaya diceritakan sebagai sebuah deça di tepian sungai.
Prasasti Masjid Kemayoran

Satu prasasti yang menulis Surabaya dalam nama Śūrapringga masih tersimpan baik di dalam masjid Kemayoran Surabaya di jalan Indrapura Surabaya. Prasasti ini mengabadikan tentang pembangunan masjid yang diketahui oleh Bupati Śūrapringga Raden Tumenggung Kramajoyodifono, Residen Śūrapringga Daniel Willem Francois Pietermaat dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Jacob Rochussen.
Koin Java

Masih ada lagi bukti penulisan nama Śūrapringga pada pecahan mata uang koin di masa pemerintahan Inggris di Hindia Timur. Pada mata uang itu tertulis nama Śūrapringga dalam dua aksara: Jawa dan Pegon. Yang istimewa uang koin itu diproduksi di Śūrapringga (Surabaya).

Catatan catatan sejarah kuno itu menjadi bukti tertulis mengenai eksistensi Surabaya sebelum berkembang menjadi kota pelabuhan penting di Nusantara dan modern seperti sekarang. (PAR/nng)
Baca: Mengenal Kediaman Bupati Surapringga (Surabaya) di Kebon Rojo.
