Belajar Aksara Tidak Harus Belajar Bahasa. Sebaliknya Belajar Bahasa Akan Bijak Bila Belajar Aksara. Mengapa Demikian?

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Belajar aksara (Jawa) dan belajar bahasa adalah dua hal yang berbeda. Seseorang tidak harus menguasai atau belajar bahasanya untuk bisa menuliskan aksara tersebut (Jawa).

Belajar menulis aksara Jawa. Foto: dok

Apalagi harus belajar bahasa Jawa untuk belajar aksara. Aksara Jawa sejatinya bisa dipakai untuk menulis bahasa lainnya seperti bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Indonesia dan bahkan bahasa asing, sejauh lafal pengucapan bisa diwakili dengan ketersediaan aksara.

Contoh kata dalam bahasa Madura:

a. Molè (Pulang) = /ꦩꦺꦴꦭꦺ/

b. Tèdung (Tidur) = /ꦠꦺꦝꦸꦁ/

Bahkan aksara (Jawa) ini fleksibel karena aksara Jawa memiliki aksara rekan untuk menyesuaikan kosa kata dalam.bahasa asing, misalnya bahasa Inggris dan Arab.

Contoh kata dalam bahasa Inggris:

a. Going to school (Gowing tu skul) /ꦒꦺꦴꦮꦶꦁꦠꦸꦱ꧀ꦏꦸꦭ꧀/

Ada pelafalan dalam.bahasa Arab, yang tidak tidak ada dalam.aksara Jawa, Lalu dibuatlah aksara rekan. Misalnya aksara KHA /ꦏ꦳/ yang dibuat dari aksara KA /ꦏ/ ditambah koma tiga diatasnya. Maka jadilah KHA.

Misalnya pada kosakata KHAFIFA /ꦏ꦳ꦥ꦳ꦶꦥ꦳/, dalam penulisan aksara Jawa mestinya Kapipa /ꦏꦥꦶꦥ/.

Karena harus menyesuaikan dengan pengucapan aslinya maka dibuatlah aksara rekan. Dalam bahasa dan aksara Jawa, tidak ada aksara KHA dan FA. Maka dibuatkan aksara Rekan. Aksara Rekan adalah Aksara Adaptasi (Fleksibel) untuk menyesuaikan pada pengucapan bahasa asingnya.

Ini menunjukkan bahwa aksara Jawa merupakan Voice Based Script. Dalam banyak kajian linguistik dan filologi, Aksara Jawa sering disebut sebagai Voice-Based Script (aksara berbasis fonetik/suara).

Justru sebaliknya bila seseorang belajar bahasa, sedikitnya perlu belajar aksara. Mempelajari sistem penulisan (aksara) sangat krusial saat belajar bahasa, terutama untuk bahasa dengan aksara non-Latin. Penguasaan aksara membantu seseorang menguasai pelafalan, memahami akar kata, membaca teks asli, dan mengenali budaya yang membentuk bahasa tersebut

Jadi Belajar pelafalan yang benar sangat penting agar pesan yang disampaikan mudah dipahami oleh penutur asli, mencegah salah tafsir akibat perbedaan makna kata, dan membangun rasa percaya diri saat berkomunikasi.

Misalnya:

Kata Surabaya dari sumber aslinya yang beraksara Jawa Kuna (Kawi), pelafalannya adalah sebagai berikut: dalam aksara Jawa Baru (Carakan) ꦯꦹꦫꦨꦪ /Śūrabhaya/ bukan ꦱꦸꦫꦧꦪ /Surabaya/.

Sumber penulisan kata Surabaya. dok par

ꦯꦹꦫꦨꦪ /Śūrabhaya/ berarti berani menghadapi bahaya.

Penulisan Surabaya dalam aksara Jawa. Foto: nng

ꦱꦸꦫꦧꦪ /Surabaya/.berarti buaya minum minuman keras yang memabukkan seperti arak dan alkohol.

Coba bayangkan tanpa mempelajari aksara, kita belum/tidak tahu sumber sejarahnya, termasuk maknanya.

Jadi seseorang belajar bahasa, lebih bijak kalau belajar Aksara. Sementara orang belajar aksara, tidak perlu belajar bahasanya karena bahasa bisa dalam banyak bahasa: Jawa, Sunda, Madura, Arab, Portugis dan Inggris serta lainnya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *