Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Bungkul dicatat dalam prasasti Canggu (1358) sebagai Naditira Pradesa, bersamaan dengan Pagesangan (Gesang) dan Surabaya (Śūrabhaya), yang sekarang masuk dalam administrasi kota Surabaya.
Bungkul adalah titik Naditira Pradesa, yang sekarang keberadaannya tertutup oleh perkembangan kota Surabaya. Disana ada daerah elit sebagai pemekaran Surabaya, yang kala itu berpusat di Kota Lama. Hunian elit Darmo adalah salah satu dari area perkembangan Surabaya.
Akhirnya perkembangan kota ini menghilangkan jejak Naditira Pradesa Bukul.
Benarkah benar benar hilang?
Untungnya masih ada makam Mbah Bungkul sebagai bukti jejak kekunoan masa lalu. Apalagi di komplek pemakaman Mbah Bungkul juga ada makam Tumenggung Jangrana, yang berada dalam satu cungkup bangunan (Von Faber: Er Werd Een Stad Geboren)
Mari sadar melacak jejak lainnya!
Radius
Misalnya dari titik Nol Makam Bungkul, jika ditarik garis sejauh 2 kilometer ke arah Utara, ini mencakup wilayah sekitar Jalan Basuki Rahmat (kawasan Tunjungan Plaza bagian selatan), Jalan Kedungdoro, Jalan Embong Malang, hingga area Kampung Keputran.
Sementara jika ditarik 2 kilometer ke arah selatan maka akan mencakup wilayah yang meliputi sepanjang Jalan Raya Darmo, kawasan Wonokromo (Stasiun Wonokromo, DTC), hingga area Jagir.
Lalu ditarik 2 kilometer ke arah barat, maka akan mencakup wilayah yang meliputi kawasan Jalan Diponegoro, Kelurahan Pakis, hingga sebagian area Wonokromo (seperti sekitar RSI Surabaya dan Terminal Joyoboyo).
Terakhir tarikan yang sama 2 kilometer ke arah timur, maka akan mencakup wilayah pusat kota hingga area Gubeng. Batas akhirnya menyentuh area Stasiun Gubeng, Jalan Pemuda, sebagian Jalan Sulawesi, dan RSUD Dr. Soetomo sisi barat.
Itulah radius 2 kilometer ke segala arah dari makam mbah Bungkul dan itulah kira kira luasan Naditira Pradesa Bungkul.
Jalur Sungai
Jika acuan dibuat berdasarkan alur sungai Kalimas, maka aliran sungai ke Utara bisa sebatas Kayoon (Keputran) dan ke arah selatan bisa sebatas Kali Surabaya di kawasan Pulo Wonokromo.
Lebih jauh ke barat sudah masuk wilayah Naditira Pradesa Gesang atau Pagesangan. Sedangkan lebih jauh ke Utara adalah wilayah Naditira Pradesa Śūrabhaya, karena Śūrabhaya berada di Utara Bungkul.
Posisi geografis Śūrabhaya di sisi Utara Kalimas. Sedangkan Bukul (Bungkul) berada di sisi selatan Kalimas. Dalam perkembangannya daerah Utara berkembang lebih pesat daripada Selatan karena bagian Utara lebih banyak ditopang oleh perkembangan kawasan Eropa, Pecinan, Melayu dan Arab di abad 17 dan seterusnya.
Sebaliknya di bagian selatan mulai berkembang pada awal abad 20, misalnya dalam segi industri dan permukiman. Kawasan selatan masih berbentuk kawasan agraris dan pedesaan.
Perbandingan Peradaban Faktual
Kita ambil contoh tentang berdirinya stasiun kereta api saja, Stasiun Kota dan Stasiun Gubeng memiliki arsitektur bangunan yang lebih modern dibandingkan dengan Stasiun Wonokromo, yang konstruksinya terbuat dari kayu. Stasiun Wonokromo, yang letak geografisnya berada di selatan kota, masih bersifat rural (pedesaan).

Sifat rural ini juga meliputi Wonokromo dan termasuk kawasan Bungkul. Suasana rural ini juga menjadikan lingkungan Wonokromo dipilih sebagai Kebun Binatang pada awal abad 20. Vegetasinya cocok untuk ekosistem binatang (fauna) dan (flora). Karenanya kebun binatang di era Belanda disebut Soerabaiasche Planten-en Dierentuin (berarti Kebun Botani dan Kebun Binatang Surabaya).
Kondisi alami ini tak ubahnya lingkungan Bungkul kala itu. Kawasan Bungkul pada abad ke-16 masih berupa sebuah permukiman tua bercorak pedesaan yang asri di tepi aliran sungai. Terletak di pesisir delta Sungai Brantas, wilayah alami ini didominasi oleh perairan, vegetasi hutan, serta pepohonan rindang yang menjadi pusat penyebaran awal agama Islam di Surabaya.
Kondisi tersebut di atas merujuk pada sumber sumber seperti:
Catatan dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya yang menempatkan kawasan Ki Ageng Bungkul (Mbah Bungkul) sebagai basis penyebaran Islam awal di masa akhir Kerajaan Majapahit.
Penelitian Akademis Universitas Airlangga: Jurnal dan publikasi sejarah mengenai folklore Mbah Bungkul yang menjelaskan letak geografisnya yang strategis di dekat aliran air dan delta Brantas/Kalimas.
Studi Arsitektur Perkotaan: Buku atau kajian terkait pelestarian kawasan urban heritage Surabaya mendokumentasikan topografi kawasan tepian sungai seperti Bungkul, Wonokromo, dan Kalimas.
Sayang tidak ada catatan lama, yang menggambarkan pernah adanya pemukiman seperti di kawasan Utara atau setidaknya seperti di Keputran dan Dinoyo. Apakah Bungkul kala itu merupakan daerah pinggiran dari Keputran dan Dinoyo seperti halnya pola tata ruang/letak kuburan Peneleh, yang terletak di luar dan jauh dari kota Benteng Surabaya?
Analisa
Pertanyaan ini adalah sebuah analisa karena Keputran dan Dinoyo berjarak dalam radius sekitar 2 km, sama dengan jarak antara kota lama Surabaya dan pemakaman Eropa Peneleh.
Masuk ke kompleks Makam Bungkul memberi kesan suasana pedesaan karena rimbun dengan pepohonan yang kontras dengan lingkungan Darmo, yang sudah memberikan kesan perumahan modern di era Kolonial di awal abad 20.
Di kawasan dalam makam juga masih ditemui pohon pohon langka seperti sawo kecik, Kemuning, Soka, Tanjung, Tenggulun, Juwet dan Beringin. (PAR/nng)
