Ekspedisi Budaya Maritim Kalimas.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Secara administratif, sungai Kalimas dikenal mengalir dari hulu di Ngagel hingga ke hilir di Tanjung Perak, melewati beberapa wilayah kelurahan di antaranya Kelurahan Ngagel, Kelurahan Keputran, Kelurahan Ketabang, Kelurahan Peneleh, Kelurahan Bongkaran, Kelurahan Nyamplungan, dan Kelurahan Perak Utara.

Sungai Kalimas ini salah satu sungai utama di Kota Surabaya, yang bersumber dari Kali Brantas melalui Kota Mojokerto. Di Kota Mojokerto, Kali Brantas bercabang menjadi 2 sungai yakni Kali Porong dan Kali Surabaya. Di Wonokromo Kali Surabaya terpecah menjadi dua anak sungai yaitu Kalimas dan Kali Wonokromo.

Kali Kalimas mengalir ke arah utara Kota Surabaya melewati tengah kota dan bercabang dua menjadi Kali Pegirian dan Kalimas. Sedangkan Kali Wonokromo mengalir lurus ke arah pantai timur dan bermuara di selat Madura.

Sungai Kalimas melewati Kota Surabaya dari sekitar Pintu Air Wonokromo sampai kawasan Tanjung Perak. Sungai ini mempunyai bentuk sungai yang meliuk dan sebagian melurus. Lebar permukaan sungai beragam mulai dari 20 meter sampai 35 meter. (https://repository.upnjatim.ac.id)

Bagian terlebar permukaan sungai berada di daerah Kelurahan Ngagel yang mempunyai lebar maksimal sungai 35 meter yaitu di dekat pintu air. Pada daerah ini kondisi air termasuk paling bersih sehingga di sini air sungai banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar sungai untuk mandi dan cuci (aktivitas MCK).

Sedangkan lebar permukaan sungai tersempit berada di Kelurahan Bongkaran yaitu di dekat Jl. Karet dan Jl. Coklat dengan lebar sekitar 20 meter (Awalunikmah, 2017).

 

Naditira Pradesa

Di sepanjang sungai yang sekarang dikenal dengan nama sungai Kalimas ini melawati Kawasan Bungkul dan Peneleh.

Sungai Kalimas Surabaya. Foto: dok par

Di kawasan Bungkul, yang ditandai dengan kekunoan Makam Bungkul, sungainya berjarak sekitar 200 meter. Sementara sungai Kalimas di Peneleh, yang ditandai dengan kekunoan sumur jobong berjarak sekitar 100 meter.

Peneleh dan Pengampon menurut GH von Faber dalam bukunya “Eer Werd Een Stad Geboren (1953)” diidentifikasi sebagai Surabaya yang sudah ada sejak 1275 M.

Peneleh menurut GH Von Faber. Gambar kiri. Foto: nng

Sementara menurut Prasasti Canggu, Desa Bkul (i Bekul) dan Desa Śūrabhaya (i Śūrabhaya) sudah ada sejak 1358 M sebagai Naditira Pradesa (desa desa di tepian sungai). Desa Śūrabhaya secara alami geografis berada di Utara Bungkul atau dekat muara di bagian hilir sungai.

Prasasti Canggu, Sumber sejarah otentik ada di tangan. Foto: dian

Jadi di bagian pinggiran sungai Kalimas sudah lama telah teridentifikasi terdapat dua Naditira Pradesa sebagaimana tersebut dalam Prasasti Canggu yang dikeluarkan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, pada 7 Juli 1358 M.

 

Jejak Masa Lalu

Dari dua tempat Bungkul dan Peneleh, yang ditandai dengan kekunoan berupa makam Bungkul dan Sumur Jobong, menjadi mercusuar untuk melihat lebih dalam tentang jejak jejak peradaban masa lalu.

Makam bangsawan Peneleh. Foto: nng

Sebetulnya ada tanda tanda lain secara fisik (tangible) dan non fisik (intangible) yang dapat ditemukan dan digali dari dua kawasan kuno ini. Dari keduanya antara Bungkul dan Peneleh yang lebih mudah diidentifikasi adalah kawasan Peneleh.

Ibu Raden Ayu Putri di kawasan Peneleh. Foto: nng

Kawasan ini memiliki toponimi yang mengacu pada kekunoan lain selain Sumur Jobong. Misalnya nama kampung, seperti misalnya Grogol. Grogol dalam bahasa Jawa Kuna berarti benteng atau sistem perangkap dan alat pertahanan.

Kampung Grogol Kauman di kelurahan Peneleh. Foto: nng

Dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) dan Sansekerta, grogol merujuk pada alat perangkap atau jebakan (biasanya berupa kerangkeng dari kayu) yang digunakan untuk menangkap hewan liar atau hewan buas.

Secara alami kampung Grogol di Kelurahan Peneleh ini berada di tengah tengah wilayah. Disana ada nama kampung Grogol Kauman. Grogol Kauman dikenal sebagai salah satu kampung tua bersejarah di Kota Surabaya.

Kampung Grogol terletak di tengah tengah kawasan Peneleh. Foto: nng

Kampung ini memiliki beberapa situs peninggalan penting, termasuk makam-makam panjang kuno (seperti makam Mbah Cokro di Grogol Gang III) dan arsitektur rumah tua bernilai budaya seperti simbol mahkota naga.

Simbol sebagai ornamen rumah kuno di Grogol. Foto : nng

Secara tradisional diduga masih ada kebiasaan masyarakat lokal di sela sela kebiasaan modern. Untuk menggali ini perlu ada upaya yang bisa dilakukan, yaitu bertajuk Ekspedisi Budaya Maritim Kalimas.

 

Penjaringan

Tahun 2022 pernah dilakukan ekspedisi serupa dengan tajuk Ekspedisi Bengawan Solo. Selain berteman lingkungan, ekspedisi ini bertema budaya. Yakni menggali potensi lokal dengan wadah 10 Objek Pemajuan Budaya.

Kiranya hal serupa bisa dilakukan dalam menggali potensi kemaritiman Kalimas di Surabaya. Apakah ada potensi lokalnya? Tentu ada bila mau digali dan dikaji. Pertanyaannya adalah siapa mau peduli? Anda? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *