Budaya, lingkungan
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sungai adalah bagian alami dan bersejarah dari Surabaya. Wilayah ini secara geografis terbentuk dari delta Sungai Brantas, dan kota ini dialiri oleh aliran utamanya, yaitu Kali Surabaya (atau Kalimas) dan Kali Jagir.

Masih banyak sungai sungai lainnya yang mengalir di Surabaya seperti misalnya Sungai Lamong, Sungai Kalianak dan sebagainya. Diantaranya ada yang sudah mati dan dimatikan seperti Kalimati Wetan, Kalimati Kulon dan Kalisosok dan Kali Krembangan.

Sungai di Surabaya memiliki peran vital yang meliputi sumber kehidupan utama. Aliran Kali Surabaya adalah sumber air baku utama bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), yang menyuplai kebutuhan air warga kota. Belum lagi sebagai jalur sejarah dan perdagangan, dimana Kalimas telah menjadi urat nadi transportasi dan pusat perdagangan sejak zaman Kerajaan Majapahit dan era kolonial Belanda hingga ke Pelabuhan Kalimas.

Belum lagi di era kekinian Kalimas dimanfaatkan sebagai destinasi wisata. Kini area bantaran sungai Kalimas, telah direvitalisasi menjadi ikon wisata air seperti Wisata Perahu Kalimas, dimana pengunjung bisa menikmati suasana kota di sepanjang rute bersejarah.
Melalui wahana wisata air, warga bisa belajar sejarah sungai, termasuk asal usul Surabaya. Surabaya pada masa lalu akrab disebut Naditira Pradesa atau desa di tepian sungai. Jadi peradaban Surabaya bermula dari peradaban sungai.

Data dari sejarah perkembangan Surabaya berdasarkan peta peta yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda (Hindia Belanda), bahwa pertumbuhan dan perkembangan kota berapa pada jalur sungai. Perkembangan kota ini tumbuh dari Daerah Sekitar Sungai (DAS).
Sebagai warga Surabaya, sudah sepatutnya dapat memandang sungai bukan sekadar saluran air belakang rumah, melainkan urat nadi kota yang memiliki nilai sejarah, ekonomi, dan lingkungan yang sangat vital. Mengingat julukan Surabaya sebagai “Kota Pahlawan” yang dibangun di muara Sungai Kalimas, menjaga sungai adalah wujud nyata kepahlawanan masa kini.
Misalnya warga Surabaya tidak membuang sampah sembarangan. Mereka seharusnya bisa menjadikan sungai sebagai halaman depan yang bersih. Tidak membuang sampah ke sungai.
Bisa manfaatkan layanan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya untuk pengelolaan sampah yang tepat agar tidak mencemari aliran sungai.
Warga kota bisa juga mendukung Program Normalisasi Sungai dimana warga bisa menjaga fasilitas pengendalian banjir yang ada di sepanjang sungai seperti pintu air dan pompa.
Mereka bisa juga mendukung penataan kawasan bantaran sungai menjadi ruang publik yang asri.
Mengurangi limbah domestik dengan mengelola limbah rumah tangga dengan baik sebelum mengalirkannya ke saluran air kota agar kualitas air sungai tetap terjaga dan tidak membahayakan ekosistem di dalamnya.
Apalagi setiap tahun ada peringatan. Hari Lingkungan Hidup Nasional setiap tanggal 10 Januari dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang diperingati setiap tanggal 5 Juni. (PAR/nng)
